Recent Movies
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan

Diguyur Bir, Franck Ribery Murka









Munich : Bayern Muenchen berpesta setelah memastikan gelar juara Bundesliga jatuh ke tangan mereka. Sorak-sorai, nyanyi bersama dan juga minum bir mewarnai pesta perayaan itu.





Namun di tengah perayaan ada sesuatu yang tak terduga terjadi. Bintang Muenchen asal Prancis, Franck Ribery marah pada rekan setimnya yang dia anggap telah melampaui batas.





Kemarahan Ribery berawal saat pemain Muenchen tengah melakukan selebrasi gelar juara yang berhasil mereka raih musim ini. Para pemain saling siram bir. Boateng pun mencoba untuk mengejar Ribery.





Ribery yang Muslim dan tidak lagi minum minuman beralkohol berlari menghindar sekuat tenaga. 










Namun, apa daya, Boateng ternyata tidak sendiri karena pemain Muenchen yang lain juga ikut mengejar dan menyiram Ribery dengan bir. Padahal Ribery telah mengatakan kepada rekan setimnya untuk tidak menyiramnya.





"Saya tidak lagi berbicara dengan Boateng," ujar gelandang berusia 30 tahun itu. 





"Dia tahu saya seorang Muslim. Saya sangat kecewa," terang Ribery yang memiliki nama Muslim, Bilal Yusuf Mohammed itu.





Die Rotten, julukan untuk Muenchen, berhasil meraih gelar juara dengan selisih poin cukup besar dari Borussia Dortmund, yakni 22 poin, serta berpeluang menjadi juara Liga Champions musim ini.












Like ? Tweet :










Join ? Follow :











Moamen Qreiqea, Fotografer Tanpa Kaki


MOAMEN Qreiqea, seorang fotografer lepas Palestina menjalani kegiatan memotretnya dengan bantuan kursi roda di Gaza City. Moamen kehilangan dua kakinya saat memotret konflik pada 2008,  kemudian roket Israel menyambarnya. Walaupun fisik tubuhnya tidak sempurna lagi, Moamen tidak pernah berhenti untuk mewartakan berita melalui kameranya. Dukungan dari keluargamya, terutama bapaknya membuat dia tetap semangat.







Moamen Qreiqea (� REUTERS/Suhaib Salem)
REUTERS/Suhaib Salem




Moamen Qreiqea (� REUTERS/Suhaib Salem)
REUTERS/Suhaib Salem




Moamen Qreiqea (� REUTERS/Suhaib Salem)
REUTERS/Suhaib Salem




Moamen Qreiqea (� REUTERS/Suhaib Salem)
REUTERS/Suhaib Salem




Moamen Qreiqea (� REUTERS/Suhaib Salem)
REUTERS/Suhaib Salem




Moamen Qreiqea (� REUTERS/Suhaib Salem)
REUTERS/Suhaib Salem




Moamen Qreiqea (� REUTERS/Suhaib Salem)
REUTERS/Suhaib Salem




Moamen Qreiqea (� REUTERS/Suhaib Salem)
REUTERS/Suhaib Salem




Moamen Qreiqea (� REUTERS/Suhaib Salem)
REUTERS/Suhaib Salem




Moamen Qreiqea (� REUTERS/Suhaib Salem)
REUTERS/Suhaib Salem





Moamen Qreiqea (� REUTERS/Suhaib Salem)
REUTERS/Suhaib Salem




(*/msn.com)







Like ? Tweet :










Join ? Follow :











Kiprah Abu MUDI dalam Pendidikan Islam di Aceh




Oleh Tgk. Mukhlisuddin, SHI, MA (*







ABU MUDI adalah seorang ulama dayah salafiyah Aceh yang bernama lengkap Tgk. H. Hasanoel Bashry. Bin H. Gadeng. Popularisasi nama julukan Abu Mudi ini menunjukkan kadar popularitas dan gambaran peran sang tokoh agama di tengah masyarakatnya. Julukan Abu Mudi bagi Tgk. H. Hasanoel Bashry. HG, itu diperoleh karena peran dan jasanya sebagai pendidik, penegak dan pembangun lembaga pendidikan Islam Ma�hadal �Ulum Diniyah Islamiyah, juga sebagai penghargaan atas jasa dan perannya sebagai pemimpin dan pemegang posisi sentral pada lembaga tersebut pasca wafat bapak mertuanya, yaitu Tgk H. Abdul �Aziz atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abon.







Syaikh Hasanoel Bashry. HG, lahir pada tanggal 26 Sya`ban 1368 H bertepatan dengan tanggal 21 Juni 1949 M, di desa Uteun Geulinggang kec. Krueng Geukueh. Beliau adalah yang tertua dari dua bersaudara, putera pasangan Tgk. H. Gadeng dan Ummi Manawiyah yang berasal dari keluarga berlatarbelakang agama yang kuat.





Disiplin yang ditanamkan oleh orangtuanya telah membentuk karakter Abu MUDI menjadi sosok yang sangat menghargai waktu dan mencintai ilmu Allah melebihi segalanya. Beliau tampil sebagai pribadi yang tekun belajar dan tidak bosan melakukan kajian.





Tahap-tahap pembelajaran sistem klasikal dayah (pesantren) tradisional yang berbentuk halaqah dilalui dengan penuh semangat sampai selesai pada tahun 1972 (tujuh tahun).



Di sini beliau memperoleh bimbingan dari guru-guru beliauKecintaan kepada ilmu agama membuat beliau betah untuk terus bergelut dengan tradisi keilmuan dayah, segera setelah menamatkan jadwal pembelajaran kurikulum wajib, beliau mendaftar di tahap pembelajaran lanjutan. Di tahun yang sama beliau masuk di kelas Bustanul Muhaqqiqin sampai selesai pada tahun 1975. Dalam pembelajaran di tingkat Bustanul Muhaqqiqin, beliau mendapat gemblengan khusus dari Abon (Tgk. H. Abdul Aziz Shaleh sebagai pimpinan pesantren). 





Di masa ini pula beliau diserahi tugas-tugas administrasi kedayahan yang dalam konteks sekarang diistilahkan sebagai �magang�. Dalam masa itu beliau sempat mengemban tugas sebagai sekretaaris umum pesantren MUDI (1972-19750). Sukses memenuhi tanggung jawab, lalu beliau diangkat sebagai ketua umum pesantren MUDI pada tahun 1975, dan terus dijabatnya. Pada 1978, dalam usia 29 tahun, beliau menikah dengan putri sulung Abon Aziz, Shalihah.





Pengabdian tulus beliau dalam dunia kedayahan terus mendapat peningkatan bobot tanggung jawab. Puncaknya adalah pada tahun 1988, saat Abon Aziz meninggal dunia sehingga praktis tugas kepemimpinan pesantren harus diisi olehnya. Dan akhirnya beliau ditetapkan pula menjadi pimpinan pesantren MUDI Mesjid Raya sampai sekarang.





Kiprah Abu MUDI dalam Sosial Kemasyarakatan





Tanpa mengesampingkan perhatian Syaikh Hasanoel Bashry. HG, pada sektor pengajaran, ternyata konsentrasi pada bidang organisasi kemasyarakatan juga menjadi prioritas utama. Diantaranya, Ketua Tarbiyah Islamiyah Kec. Samalanga, Penasehat Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), Ketua Syuriyah Nahdhatul Ulama (NU) Kab. Bireuen, dan wakil ketua Syuriyah Nahdhatul Ulama (NU) wilayah Nanggroe Aceh Darussalam, Dewan Majelis Syuyukh Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Provinsi Nanggro Aceh Darussalam sejak tahun 2003 sampai dengan sekarang, Wakil Ketua Majelis Pendidikan Daerah Kabupaten Bireuen sejak tahun 2003 sampai dengan sekarang, Ketua Ikatan Persaudaraan Haji (IPHI) Samalanga, sejak tahun 2003 sampai dengan sekarang.





Dalam sosial kemasyarakatan, Abu MUDI dalam berinteraksi dengan masyarakat tidak hanya dilakukannya melalui halaqah ilmiah, tetapi beliau juga mengoptimalkan seluruh media yang bisa dimanfaatkan untuk berinteraksi dalam hal pengembangan pendidikan Islam. Hingga saat ini, Abu MUDI melayani masyarakat dalam menjawab beragam kasus hukum melalui Short-Message-Service (SMS), Blacberry Messangger (BBM), dan Fanspage Facebook.





Kiprah Abu MUDI dalam Karya Tulis





Tidak hanya itu, Syaikh Hasanoel Bahsry. HG, juga konsen pada bidang penulisan yang tersebar dalam beberapa disiplin ilmu dengan ciri khas merata yaitu argumentatif. Beliau tertarik untuk terjun ke dunia penulisan setelah membaca dan mengkaji secara serius sebuah buku yang kontroversial yaitu buku �Al-Manazil� buah pena Al-Anshari (w. 481/1089). Buku tersebut kemudian diberi komentar dan ditulis dengan judul Manazil Al-Sa�irin.





Alasan kedua beliau tertarik untuk menulis, setelah melihat fenomena kehidupan masyarakat muslim hari ini khususnya di Aceh, minim sekali yang berminat untuk mempelajari hukum atau ilmu agama lainnya dengan menggunakan kitab Arab klasik sebagai panduan. Mereka lebih senang membaca buku- buku yang kadang- kadang sangat kontroversial dengan ajaran agama yang sebenarnya.





Sejak saat itulah Syaikh Hasanoel Bashry. HG. mulai berkarya dan menterjamahkan kitab- kitab Arab klasik ke dalam bahasa Indonesia yang benar, dan mudah dipahami oleh pembaca. Dan karya lainnya dalam bentuk makalah, seperti. Peran Ulama Dalam Perdamaian Aceh (Peran Ulama Dayah Dalam Konteks Pendekatan Berbasis Agama Dan Pendidikan). Makalah yang disampaikan pada Workshop Pondok Pesantren Dan Peace Building Bogor 23-25 Maret 2006.





Hasil karya lainnya dari Abu MUDI adalah Buku yang bertajuk Pemikiran Ulama Dayah Aceh yang diterbitkan oleh BRR-NAD pada tahun 2006, Abu MUDI juga menulis tentang Korupsi dalam Perspektif Islam, dan hingga saat ini semua karya tulis beliau ada yang telah dibukukan dan ada pula masih dalam bentuk paper ilmiah yang disampaikannya dalam setiap pertemuan ilmiah dalam berbagai acara, seperti seminar, workshop hingga sidang ifta MPU Aceh. Dan juga kadangkala tulisan Abu MUDI dipublikasikan di berbagai media online seperti di website www.suaraaceh.com, www.lbm-mudi.com dan www.al-aziziyah.com





Disamping buku-buku hasil karya Syaikh Hasanoel Bashry. HG yang menghiasi khazanah pustaka, beliau juga memiliki murid dan kader yang handal. Di antara muridnya yang mampu mewarisi semangat keilmuan dan bahkan di antara mereka ada yang berhasil mendirikan Lembaga Pendidikan di daerahnya masing- masing sebagai wujud dari perpanjangantangan dalam menyebarkan syari�at.





Kiprah Abu MUDI Dalam Pendidikan Islam di Aceh







Sebagai salah satu tokoh pendidik di Aceh, kesuksesan Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan STAI Al-Aziziyah Samalanga menjadi bukti nyata tentang kiprah yang diperankannya dalam pengembangan pendidikan di Aceh.



Dari gaya kepemimpinan beliau, Abu MUDI di Dayah MUDI Mesjid Raya telah berkontribusi dalam pengembangan pendidikan agama Islam di Aceh seperti upaya pencapaian tujuan, berfungsinya sistem di dayah tersebut, dan tingkat kepuasan individu yang berpartisipasi, salah satu factor yang melatarbelakangi kesuksesan Abu MUDI dalam menyukseskan pendidikan di Dayah MUDI Mesjid Raya adalah factor kepemimpinannya, di mana hal ini dapat dilihat dari segi perubahan yang terjadi pada pesantren dalam masa kepemimpinan Abu. 





Pada masa kepemimpinan Abu MUDI banyak sekali dilakukan perubahan-perubahan. Pola pikir beliau yang dinamis membawa angin segar perubahan yang meniscayakan pembenahan dan pembaharuan dalam beberapa sisi kedayahan diantaranya pembinaan manajerial pengelolaan Dayah MUDI Mesjid Raya, pengembangan pendidikan dan akses perhubungan masyarakat.





Dalam pengembangan pendidikan, kendatipun pesantren merupakan kenyataan sosial yang sudah mapan dalam masyarakat Indonesia, namun tidak memperoleh perhatian dan intervensi yang signifikan dari pemerintah untuk mengembangkan ataupun memperdayakannya. Hal ini menjadikan pesantren tumbuh dengan kemampuan sendiri yang pada akhirnya menumbuhkan varian yang sangat besar, karena sangat tergantung pada kemampuan masyarakat itu sendiri. Kadang kesan yang muncul adalah bahwa pesantren adalah merupakan lembaga yang eklusif dan kurang mengakomodasi perkembangan zaman.





Pesantren bukan berarti tidak mempunyai kelemahan dan kekurangan, untuk itu perlu adanya perbaikan dengan cara melakukan rekontruksi terhadap sistem pendidikan yang ada. Rekontruksi sitem pendidikan pesantren buka berarti merombak seluruh sistem yang ada yang berakibat hilangnya jaiti diri pesantren. Rekonstruksi sistem pendidikan tidak harus merubah orientasi atau mereduksi orientasi dan idealisme pesantren sebagai lembaga tafaqquh fiddiin dalam pengertian luas.





Menyadari hal tersebut Abu juga melakukan rekonstruksi di pesantren MUDI Mesjid Raya di beberapa sektor, yaitu: Kurikulum, Pengenalan Komputer, Mabna Lughah (lembaga bahasa Arab & Inggris), Pembukaan STAI Al-Aziziyah, TK, SMP Islam Dayah Jamiah Al-Aziziyah, SMK Islam Jamiah Al Aziziyah serta berbagai gebrakan perubahan yang dilakukannya untuk mewujudkan pendidikan dayah memiliki daya saing dengan berbagai lembagai pendidikan formal di Aceh maupun luar Aceh.





Hal lain yang dilakukan Abu MUDI dalam menjalankan pengembangan pendidikan Agama Islam di Aceh adalah dengan membuka akses hubung masyarakat, di antaranya dengan memdirikan lembaga Pengajian TASTAFI (Tasawuf, Tauhid dan Fiqh) di mana Abu MUDI dengan lembaga tersebut mengajarkan masyarakat luar dayah MUDI untuk pemahaman ilmu tauhid, tasauf dan fiqh. Hingga saat ini pengajian TASTAFI sudah berjalan di mesjid Al-Bakri Samalanga, Darul Jamil Beureunuen, Mesjid Lhoksukon, Mesjid Agung Bireuen, Mesjid Kembang Tanjong, Mesjid Bujang Salem krueng Gekueh, Rumkin dari Fauziah Bireuen, Yayasan Sirajul Mudhi Jakarta, Mesjid Grong-Grong Pidie, Mesjid Taqarrub Darussalam Medan dan juga mengisi kajian Islam di Kuala Lumpur dan Johor Baru Malaysia.





Termasuk juga dalam kiprah Abu MUDI dalam mengembangkan pendidikan Islam di Aceh adalah melalui pembinaan rabithah alumni LPI MUDI Mesjid Raya secara intens, Abu melakukan pembinaan alumni-alumninya sehingga hubungan antara dayah Induk dengan Dayah Alumni-Alumninya terjalin secara efektif baik daripada visi dan misinya. Lembaga MUDI hingga saat ini telah banyak menghasilkan alumni yang sebahagian dari mereka ada yang melanjutkan studinya baik dalam maupun luar negeri, dan ada pula yang sudah bekerja di instansi pemerintahan, wiraswasta serta ada pula yang berkarya mendirikan pesantren di daerah mereka masing-masing. 





Dayah cabang binaan Alumni saat ini telah mencapai 423 pesantren dan balai pengajian yang tersebar di daerah Aceh dan di luar Aceh. Dengan demikian berarti pesantren tersebut telah menciptakan para lulusan yang bermanfaat bagi pemerintah dan bagi masyarakat dalam membangun manusia seutuhnya.





Selanjutnya, Abu MUDI juga telah merintis kerja sama antar negara, di mana hingga sekarang ini Dayah MUDI telah menjalin kerjasama dengan Universitas Sultan Sharif (Unissa) Brunei Darussalam, Mufti Penasehat Kerajaan Brunei Darussalam dan Universitas Islam Antarbangsa Malaysia. 





Penandatangan nota kerjasama dengan pihak Mufti Penasehat Kejaraan Brunei Darussalam pada tanggal bertujuan untuk menerjemahkan manuskrip 600 kitab yang ditulis para ulama di Asia Tenggara, termasuk ulama Aceh ke dalam bahasa Melayu dan MUDI menyediakan orang yang memiliki kemampuan menerjemahkan manuskrip tersebut. Sedangkan dengan pihak UNNISA, Abu menjalin kerjasama yaitu di bidang pertukaran pengajar, mahasiswa, dan pengembangan paskasarjana,karena mengingat Mudi juga memiliki STAI Al Aziziyah dan para mahasiswa dan pengajar STAI Al Aziziyah bisa belajar di Unissa salah satu kampus negeri di Brunei.





Dengan demikian, perubahan-perubahan yang telah disebutkan di atas menunjukkan bahwa Abu MUDI telah membawa perubahan besar dalam lingkungan dayah khusunya dan dalam pengembangan pendidikan Islam di Aceh pada umumnya. Saat kebanyakan dayah masih anti dengan istilah manajemen modern, Abu MUDI justru telah menerapkannya di kampus MUDI Mesjid Raya Samalanga. Dan demi tercapainya visi lahirnya ulama yang berwawasan luas Abu MUDI menerapkan pendidikan umum di kampus MUDI Mesjid Raya, demi berjalannya proses pendidikan Islam, Abu tidak hanya bekerjasama dalam tingkat nasional, bahkan Abu MUDI menjalin kerja sama tingkat Internasional.



*Penulis, Staf Pengajar di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Dosen STAI Al-Aziziyah Samalanga







Like ? Tweet :










Join ? Follow :











Kisah Ayah Papua: Mantan Gerilyawan GAM Asal Papua




Abdul Halim alias Ayah Papua


KONFLIK Aceh telah 7 tahun berakhir. Namun masih banyak kisah haru, heroik, dan sisi-sisi kemanusiaan yang belum terungkap. Salah satunya adalah tentang sosok Abdul Halim (52) alias Bang Yan alias Ayah Papua. Mungkin ia menjadi satu-satunya putra Papua yang berjuang di hutan Aceh.


Kini, saat Aceh mulai damai, ia memendam hasrat untuk memberi contoh kepada keluarga dan teman-temannya di tanah Papua, tentang bagaimana berjuang mengangkat harkat dan martabat rakyat Papua, tanpa harus lagi mengorbankan nyawa manusia.


Terlahir dari Keluarga Pendiri OPM


GAYA bicaranya blak-blakan, logat bahasa Indonesianya masih seperti orang Papua. Jika bukan dari gaya bicaranya, orang tidak menyangka kalau pria berperawakan kecil ini adalah orang Papua asli. Apalagi, rambut kriwil khas Papua, tertutup oleh topi pet berbahan campuran kain dan karet di kepalanya.


"Saya lahir di Manokwari, tanggal 21 Juli 1950, dari keluarga pejuang OPM (Organisasi Papua Merdeka). Ayah saya, Pieter Bonsapia adalah salah satu pendiri OPM," ujar Abdul Halim alias Ayah Papua, dalam bincang-bincang dengan Serambi di sebuah warung kopi, di Uleekareng, Banda Aceh, Sabtu (21/1).


Ia menyeruput kopi dalam-dalam. Rokok kretek merek Dunhill nyaris tidak pernah lepas dari celah dua bibirnya. Padahal, asbak di depan kami nyaris sudah penuh dengan puntung rokok miliknya.


Baru setengah jam duduk, dia sudah minta tambah satu gelas kopi lagi kepada pelayan warung. "Kami di Papua biasanya minum kopi dalam gelas besar," kata dia sambil memeragakan ukuran gelas dengan tangannya.


"Bukan 'kopi' dalam botol?" goda temannya yang juga mantan aktivis GAM. "Kadang-kadang juga," sahut Ayah Papua sambil cengar cengir.


Ayah Papua memang sosok yang enak diajak bicara. Meski baru kenal, dia langsung bisa akrab dan bercerita panjang lebar tentang kisah hidupnya. Mulai dari saat SMA di Sorong, hingga kisah-kisah heroik saat harus bergerilya di Aceh masa konflik dulu.


Sebagai putra pejuang, Ayah Papua sudah biasa ditinggal pergi oleh ayahnya. "Pada tahun 1974, ayah saya hijrah ke Vanuatu, dan mulai saat itu beliau kerap keluar masuk Papua-Vanuatu melalui jalur ilegal," ungkapnya.


Meski kerap ditinggal pergi ayahnya, tak membuat Abdul Halim tertinggal dari segi pendidikan. Selepas SMA di Sorong (kini Papua Barat), Abdul Halim melanjutkan pendidikannya ke Akademi Ilmu Pelayaran Surabaya. Namun, Halim hanya bertahan selama dua tahun. Ia kemudian memutuskan pindah ke Institut Ilmu Pemerintah (IIP) di Jakarta. Namun, lagi-lagi Halim hanya sanggup bertahan selama dua tahun. "Saya baru mendapat sarjana setelah ambil persamaan di Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang," ujarnya.


Ijazah S-1 dari Politeknik Semarang itu tidak disia-siakannya. Dengan dasar tersebut, Halim melanjutkan kuliah untuk mengambil spesialisasi bidang Well Control di University Austin Texas, Amerika Serikat.


Selepas dari Texas, Abdul Halim alias Ayah Papua, mulai bekerja di Continental Oil Company (Conoco), sebagai tenaga bidang pengeboran minyak lepas pantai. Pekerjaan ini lah yang mengantarnya bersentuhan dengan Aceh. "Tahun 1979, saya menikah dengan gadis Aceh Rosdiana Juned, di Tapanuli Selatan. Kami kenal di sana (Tapsel)," ujarnya.


Setahun di Tapsel, Abdul Halim dikontrak oleh perusahaan pengeboran minyak Mobil Oil untuk ditugaskan di wilayah Aceh Timur. Di sinilah dia mulai bersentuhan dengan para aktivis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). "Saat itu saya mulai tertarik dengan perjuangan mereka (GAM), tapi saya belum terlibat aktif," ujarnya.


Bergerilya di Rimba Aceh


Baru pada tahun 1986, dia mulai mencoba-coba aktif di GAM dengan tugas pertama sebagai petugas di bidang komunikasi (radio). Meski mulai aktif di GAM, Abdul Halim tetap menjalani tugas rutinnya yang pada tahun 1987 menjadi staf pengeboran di perusahaan Medco, subkontrak Mobil Oil di bidang pengeboran.


"Keterlibatan saya di GAM bukan serta merta, melainkan melalui sebuah pemikiran cukup panjang. Akhirnya saya ambil kesimpulan bergabung karena menurut saya ini adalah perjuangan mulia, untuk mengembalikan harkat dan martabat rakyat Aceh," ujarnya.


Keputusan Ayah Papua bergabung dengan GAM bukan tanpa konsekwensi, saat pemberlakuan status Daerah Operasi Militer (DOM) pada tahun 1989, Ayah Papua harus meninggalkan pekerjaan yang baru satu tahun digelutinya di Medco.


"Pada tahun 1989 saya hijrah ke Malaysia, dan baru kembali menjelang satu tahun pencabutan status DOM (1998). Setelah status DOM dicabut, kami kembali aktif membangun kekuatan dengan di bawah komando Analfiah Julok.



Sejak itu, berbagai kisah heroik dialaminya. Sebagai pejuang Ayah Papua, jarang berkumpul dengan keluarganya. Kondisi Ayah Papua Cs semakin terjepit saat pemerintah RI menetapkan status Darurat Militer pada tahun 2003.


"Saat itu kami kerap keluar masuk Aceh. Kebanyakan dari kami membuat basis di Kerinci, Jambi. Banyak dari teman-teman kami meninggal di medan perang. Alhamdulillah, saya masih dilindungi, hingga bisa menikmati perdamaian saat ini," ujarnya mengenang.



Dua dari tujuh anaknya (2 perempuan 5 laki-laki), juga aktif di GAM. "Satu orang TNA (tentara GAM) dan satu lainnya sipil," terang dia.


Panggilan Ayah Papua


Saat tsunami menerjang Aceh 26 Desember 2004, Ayah Papua menjadi salah satu orang pertama yang paling terpukul. Tanpa memedulikan statusnya sebagai buronan aparat keamanan, Ayah Papua bekerja keras untuk mengevakuasi mayat-mayat yang berserakan di seputar Banda Aceh dan Aceh Besar.


"Saat itu, banyak relawan datang dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka lebih suka memanggil saya Ayah Papua. Padahal nama saya Abdul Halim, sementara saat konflik dulu, saya dikenal dengan nama Sofyan atau Bang Yan," ujarnya.


Aceh dan Papua Kerangka Indonesia


SEJAK menetap di Aceh pada tahun 1980, Abdul Halim alias Ayah Pupua telah melewati berbagai pengalaman hidup yang akan diceritakan kepada anak cucunya kelak. Tentang bagaimana ia meninggalkan pekerjaannya di perusahaan minyak, untuk kemudian keluar masuk hutan dengan memanggul senjata. Juga tentang bagaimana ia memunguti mayat para korban konflik dan korban bencana tsunami terdahsyat di abad ini.


Meski usianya sudah berkepala lima, bukan berarti Ayah Papua tidak lagi punya cita-cita. "Saya memendam hasrat untuk membagikan ilmu tentang perdamaian di Aceh ini kepada teman-teman di Papua. Bahwa berjuang itu tidak mutlak dengan senjata. Sudah cukup mereka berjuang puluhan tahun dengan senjata, kini saatnya mereka harus berjuang melalui jalur politik, seperti yang dilakukan teman-teman saya di Aceh," ujarnya.




Ia berpendapat, perdamaian Aceh yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, bukan saja telah menyelamatkan nyawa ribuan rakyat Aceh dan Indonesia. Tapi, perdamaian yang melahirkan butir-butir kesepahaman (MoU) Helsinki dan Undang-undang Pemerintah Aceh (UUPA), juga telah mengangkat harkat dan martabat rakyat Aceh.


"Orang-orang Aceh yang dulu terpinggirkan dan tinggal di desa-desa, kini telah bisa menjadi pemimpin formal yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia. Hasil perjuangan ini juga melahirkan para pemuda kritis dan pintar. Ini merupakan aset bagi Aceh untuk bisa berbicara lebih banyak lagi di tingkat nasional," ujarnya.


"Saat delegasi masyarakat adat Papua dan DPR Papua berkunjung ke Aceh beberapa waktu lalu, saya menyerahkan dokumen MoU Helsinki dan UUPA. Saya bilang, generasi Papua harus banyak belajar ke Aceh, harus banyak orang Papua datang melihat Sabang. Jangan hanya melihat Mereuke saja. Mereka harus sadar bahwa Aceh dan Papua adalah kerangka berdirinya Indonesia," tambah dia.


Pendapat bahwa Aceh dan Papua adalah kerangka Indonesia, kata Ayah Papua, didasarkan pada lirik lagu "Dari Sabang Sampai Mereuke" ciptaan R. Surarjo. Lirik yang dimaksudnya;



"Dari Sabang sampai Merauke, Berjajar pulau-pulau,...
"Sambung-menyambung menjadi satu Itulah Indonesia...."


"Dari lagu itu jelas bahwa pemilik Indonesia sesungguhnya adalah Aceh dan Papua, yang lainnya numpang. Makanya, saya selalu bilang, kalau mau memperbaiki Indonesia, maka perhatikan dulu Aceh dan Papua. Selama ini pemerintah hanya membangun wilayah tengah saja. Sedangkan kerangkanya (Aceh dan Papua) diabaikan. Apa tidak hancur bangsa ini," ujarnya penuh semangat.


Atas dasar itu pula, saat ini Ayah Papua sedang mencoba menjajaki memfasilitasi perdamaian di Papua melalui Interpeace, lembaga yang hingga kini masih mengawal perdamaian di Aceh. Dia akan mengajak para pemuda Aceh untuk menurunkan ilmunya kepada masyarakat di Papua.


"Mereka (warga Papua) harus meningkatkan harkat dan martabat bangsa Papua, tidak hanya sekedar berani mati. Kalau modal nekat, sudah dimiliki pejuang di Papua. Sekarang tinggal dikombinasikan dengan ilmu politik yang mumpuni," katanya.


Lalu apakah kondisi Aceh saat ini sudah cukup ideal?



"Belum, masih butuh perjuangan panjang. Tapi saya pikir, Aceh sudah lebih baik daripada Papua. Saya pikir, yang perlu dilakukan di Aceh setelah proses reintegrasi selesai, adalah regenerasi. Secara perlahan, para pemimpin Aceh harus menyerahkan tongkat kepemimpinan di beberapa bidang kepada para pemuda. Sehingga suatu hari nanti, mereka benar-benar telah siap memimpin dan mewujudkan kesejahteraan, serta mengangkat harkat dan martabat rakyat Aceh," ujarnya.


Ayah Papua yang kini aktif di Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Aceh ini juga punya saran kepada pemerintah pusat untuk tidak mengabaikan aspirasi dari para mantan kombatan GAM.



"Perjuangan hari ini adalah perjuangan dengan konsentrasi dan penuh perdamaian. Jadi bangsa ini tolong hargai aspirasi mereka. Sebab kalau tidak dihargai, kita akan membuka ruang bagi terjadinya upaya penghancuran kerangka Republik ini," tukas Ayah Papua.


Mengomentari tentang aksi penembakan yang marak terjadi di Aceh beberapa waktu lalu, Ayah Papua mengaku tidak yakin kalau aksi itu dilakukan oleh para mantan kombatan. Apalagi sampai dikait-kaitkan dengan sentimen anti-Jawa di Aceh.


"Saya sudah merasakan saat bergabung dengan GAM, tidak ada perbedaan ras dan warna kulit. Semua penduduk ber- KTP Aceh punya kesempatan yang sama untuk berkiprah di partai Aceh. Jadi kami para mantan kombatan, tidak pernah anti dengan pendatang. Bahkan banyak kombatan berasal dari suku Jawa," tukas Ayah Papua.[]



(*/Laporan Wartawan Serambi Indonesia Zainal Arifin M. Nur) | Minggu, 22 Januari '12




Like ? Tweet :
Join ? Follow :

Profil Ulama: Siapa Abon Abdul Aziz Samalanga?







Tgk Abdul Aziz Bin M Shaleh, merupakan tokoh yang cukup berpengaruh bagi masyarakat Aceh. Salah satu perannya adalah, Dayah Ma�hadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (MUDI Mesra) Samalanga, kabupaten Bireun, sehingga mencapai kemajuan yang amat pesat.





Kemajuan kini diteruskan oleh pengurus sesudah dayah beliau. Pimpinan MUDI Mesra yang baru mengembangkan pendidikan dayah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) tanpa meninggalkan pola pendidikan dayah yang kini memiliki santri sekitar 3.000-an.





Siapakah Beliau?





Abon Abdul Aziz Samalanga (2)Abon Samalanga merupakan salah seorang ulama kharismatik Aceh. Nama asli beliau Tgk. H. Abdul �Aziz bin M. Shaleh, beliau lebih dikenal dengan panggilan Abon �Aziz Samalanga atau Abon Mesjid Raya Samalanga. Beliau lahir di Desa Kandang Samalanga Kabupaten Aceh Utara (Kabupaten Bireuen sekarang) pada bulan Ramadhan tahun 1351 H/1930 M.





Abon diasuh dan dibesarkan di Jeunieb, ayahandanya pernah menjabat Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Jeunieb. Beliau juga salah seorang pendiri Dayah Darul �Atiq Jeunieb, sehingga Abon dari masa kecilnya sudah mulai belajar ilmu agama di dayah tersebut semasa tinggal di Jeunieb.





Ketika usia Abon telah matang, Abon menikahi seorang gadis di desa Mideun Jok Samalanga yang merupakan putri gurunya sendiri yang merupakan pimpinan Dayah Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Dayah Ma�hadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (MUDI Mesra) Samalanga pada waktu itu sehingga Abon dikaruniai 4 anak, yaitu Alm. Hj. suaibah, hj shalihah, Tgk H Thaillah dan Hj Masyitah.





Abon memulai belajar pada pendidikan formal pada tahun 1937, Abon memasuki sekolah Rakyat (SR) dan menamatkan pendidikan dasarnya pada tahun 1944. Dari tahun 1944 beliau belajar pada orang tuanya selama 2 tahun, kemudian pada tahun 1946 beliau pindah belajar ke Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga yang pada waktu itu dipimpin oleh Tgk Haji Hanafiah (Tengku Abi) lebih kurang selama 2 tahun.





Pada tahun 1948 Abon melanjutkan pendidikannya ke salah satu dayah yang dipimpin oleh Teungku Ben (Teungku Tanjongan) di Matangkuli Kabupaten Aceh Utara. Di dayah ini Abon belajar pada tengku Idris Tanjongan sampa dengan tahun 1949 dan pada tahun tersebut beliau kembali ke Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga untuk mengabdikan diri menjadi guru di dayah tersebut.





Mengabdi untuk Dayah





Setelah beliau mengabdi menjadi guru beberapa tahun, pada tahun 1951 Abon melanjutkan pendidikan ke Dayah Darussalam Labuhan Haji Kabupaten Aceh Selatan yang dipimpin oleh Alm. Teungku Syeikh Muhammad Wali Al-Khalidi yang lebih dikenal dengan panggilan Abuya Mudawali. Abon belajar di Dayah Darussalam lebih kurang selama tujuh tahun.





Selama di Darsusalam beliau belajar dengan tekun, pernah di ceritakan oleh Tgk. Muhammad Amin Tanjongan yang merupakan murid Abon yang juga belajar di Labuhan Haji, bahwa pada saat muthala`ah beliau membuka segala kitab yang berkenaan dengan pelajaran yang sedang beliau pelajari, sehingga kamar beliau terlihat berserakan dengan kitab.





Pada tahun 1958 Abon kembali lagi ke Dayah LPI MUDI Mesjid Raya samalanga untuk mengembangkan ilmunya. Pada tahun tersebut pimpinan Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga meninggal dunia, sehingga Abon diangkat menjadi pimpinan dayah tersebut. Semenjak dayah LPI MUDI Mesjid Raya berada di bawah kepemimpinannya, banyak perubahan terjadi, terutama menyangkut tentang kurikulum pendidikan yang semula tidak terlalu fokus pada ilmu-ilmu alat (bantu) seperti ilmu manthiq, ushul al-fiqh, bayan, ma�ani, dan lain-lain. Keahlian Abon yang sangat menonjol adalah dalam bidang ilmu manthiq sehingga Abon digelar dengan al-Manthiqi.





Abon sangat disiplin dan memiliki semangat luar biasa dalam mengajar, sehingga dalam keadaan beliau sakit pun beliau tetap antusias mengajar. Maka tidak heran jika dalam nasehatnya, beliau selalu mengamanatkan kepada murid-muridnya untuk selalu belajar-mengajar (beut-seumubeut). Dalam pengajarannya, Abon sangat membenci faham Wahabiyyah sehingga beliau tidak pernah bosan dalam mengurai kesesatan faham tersebut. Bahkan hampir setiap hari Abon menyinggung tentang kesesatan faham tersebut.





Kemajuan Pesat





Pada masa kepemimpinan Abon, kemajuan dayah MUDI Mesra semakin meningkat pesat, Jumlah santri dari jumlah ratusan menjadi ribuan, bangunan fisik dayah pun juga berkembang sesuai dengan perkembangan zaman yang terus maju. Selain dari aktifitas Abon di dayah, Abon juga membuka pengajian mingguan di Jeunieb yang dikenal dengan Balee Hameh, karena pengajian diadakan seminggu sekali pada hari Kamis.





Disamping aktifitas dakwah melalui majelis pengajian, Abon juga ikut dalam pembangunan fisik, seperti membangun jalan menuju perkebunan di Desa Gle Mendong Samalanga, dan menggarap sawah yang telah terlantar bertahun-tahun. Bersama-sama dengan murid-muridnya serta dibantu oleh masyarakat sekitar, Abon menata kembali perkebunan dan persawahan telantar, semua beliau lakukan demi hidupnya perekonomian masyarakat.





Dalam dunia perpolitikan, Abon pernah memberi dukungan kepada partai PERTI. Abon memilih partai tersebut karena partai ini berlatarbelakang faham ahlussunnah waljama�ah.





Ada satu pesan yang sangat sering diamanahkan kepada murid-muridnya yaitu belajar-mengajar (beut-seumubeut), di mana pun dan dalam kondisi bagaimana pun sepulang dari dayah nantinya, walau hanya bermodal sebuah balai di depan rumah dan hanya mampu mengajarkan cara membaca al-quran saja.





Pesan tersebut telah menjadi doktrin yang menjiwai pemikiran murid-murid beliau. Kiranya inilah misi utama beliau yang sekarang telah nyata hasilnya. Terbukti dari banyak dayah dan balai pengajian di sebagian besar wilayah Aceh, merupakan lembaga yang dipimpin oleh alumni Dayah LPI MUDI Mesjid Raya. Dari seluruh murid Syeikh Abuya Muda Waly al-Khalidy, Abon Abdul Aziz merupakan ulama yang paling banyak melahirkan penerus. Beliau berhasil mendidik kader ulama melebihi dari murid-murid Abuya yang lain.





Selain pesan untuk selalu beut-seumebeut (belajar mengajar) dalam hal mencari nafakah Abon juga selalu menekankan murid-murid beliau supaya bekerja dan memiliki usaha jangan hanya berpangku tangan mengharap bantuan dan sedekah orang lain yang Abon istilah dengan kata beliau �leubee lam aree�.





Firasat Tajam Abon





Selain itu, Abon juga memiliki firasat yang tajam dan kuat. Ini merupakan salah satu karamah beliau. Beberapa perkataan beliau terbukti kebenarannya. Beberapa kisah ketajaman firasat Abon yang kami dengar antara lain:





Diceritakan oleh Abu Mudi, pada suatu hari datang dua santri baru di dayah Mudi. Pada saat menghadap Abon, salah seorang dari santri baru tersebut dipandang oleh Abon dengan cukup lama, setelah ke dua santri tersebut keluar, Abu Mudi yang menyaksikan hal tersebut bertanya kepada Abon, mengapa Abon berlaku demikian, Abon menjawab �Esok hari ia akan pergi meninggalkan dayah�. Abu Mudi pun bertanya :





�Bagaimana dengan santri yang satu lagi?� Abon menjawab bahwa ia akan bertahan di dayah selama beberapa saat. Esok harinya hal ini terbukti, santri yang dipandang oleh Abon tersebut langsung hengkang dari dayah, sedangkan yang satu lagi tetap bertahan sampai beberapa tahun.





Abon pernah ditanyakan oleh salah satu murid mengapa Abon tidak membentuk ikatan alumni sebagaimana dilakukan oleh Abu Tepin Raya pada Dayah beliau, Darus Sa`adah. Abon menjawab: itu tidak perlu saya pikirkan, suatu saat akan dipikirkan oleh mereka sendiri. Hal ini tersebukti , saat ini alumni Mudi telah memiliki satu ikatan organisasi yang tergabung dalam Yayasan al-Aziziyah.





Abu Mudi menceritakan, Pada awalnya waled Nu (Tgk.Nuruz Zahri, pimpinan pesantren Nurul Aiman, Samalanga) hanya mendirikan panti asuhan bukan sebuah dayah. pada suatu ketika Abon mengatakan kepada bahwa� nyak Nu (waled Nu) suatu saat akan mendirikan Dayah. Hal ini terbukti bahwa sekarang ini panti asuhan yang dikelola Waled Nu telah berkembang menjadi satu dayah yang besar yang terletak tidak jauh dari Dayah Mudi Mesra.





Dalam hal mendidik muridnya, Abon juga mencoba mental murid-murid beliau. Hal ini semua bertujuan untuk tazkiyah hati murid. Seperti yang oleh Abu Mudi, pada suatu hari Abu Mudi sudah siap dengan pakaian yang rapi ingin menuju ke pasar Samalanga, tiba-tiba beliau dipanggil oleh Abon, setelah sampai didepan Abon, beliau mengajak Abu Mudi menuju kesawah tanpa menunggu Abu Mudi mengganti pakain. Akhirnya Abu Mudi ikut bersama Abon menuju sawah dengan pakaian yang rapi. 





Sampai disawah, Abon menyuruh kepada Abu Mudi untuk memperbaiki pematang sawah. Abu Mudi segera melakukannya, sedangkan Abon memperhatikan bagaimana pekerjaan Abu Mudi. Setelah selesai barulah Abon mengatakan bahwa hasil kerja Abu Mudi salah, sehingga Abu Mudi harus memulainya dari pertama lagi. Rupanya Abon sengaja tidak menegur kesalahan Abu Mudi dari awal Karena ingin menguji Abu Mudi. 




Wafat





Abon berpulang ke hadharat-Nya pada tanggal 9 Jumadil Akhir 1409/17 Januari 1989 dalam usia 58. Beliau dikebumikan di Samalanga, di komplek putra Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga Kabuapten Bireuen. Semoga Allah memberi pengampunan kepada beliau, menempatkan beliau dalam satu kebun daripada kebun syurga sesuai dengan amal baik yang telah beliau lakukan. Amiin!





Tepat pada tanggal 20 April 2013, seluruh murid-murid dan pecinta Abon akan memperingati Haul dengan acara doa bersama untuk almarhum Abon serta acara mubahatsah ulama dan seminar . Semoga Allah memberikan kepada kita semua semangat Abon sehingga mampu melanjutkan perjuangan beliau dalam mepertahankan aqidah Ahlus sunnah wal jamaah.



(Buku profil ringkas Dayah MUDI Mesjid Raya, Samalanga / Al-Aziziyah)







Like ? Tweet :










Join ? Follow :











Membantah Tuduhan Rasulullah �Fedofilia� Aisyah Ra Menikah di Usia 19 Tahun







Kita selama ini mendapatkan informasi bahwa Rasulullah SAW telah melamar Aisyah RA ketika berumur 6 tahun dan berumah tangga ketika berusia 9 tahun. Selama ini pula, kaum orientalis dan kafir pembenci Islam kerap mengolok Nabi Muhammad seorang pedofilia karena mengawini Aisyah, bocah perempuan berusia sembilan tahun. Namun, ejekan itu kini terbantahkan.





Menjawab pertanyaan benar atau tidak masalah ini, melalui studi kritis terhadap hadits, Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi menemukan informasi baru. Dalam bukunya Umur Aisyah, menegaskan Rasulullah SAW berumah tangga dengan Aisyah Ra saat Aisyah Ra berusia 19 tahun.





Jadi, bagaimana cerita runutnya?!




Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi adalah seorang ahli hadits dari India. Ia lahir tahun 1924 M, putera ulama hadits terkenal Mufti Isyfaq Rahman. Ayahnya ini pernah jadi mufti besar Bhopal India.



Adapun yang menjadi dasar kesimpulan tersebut adalah riwayat yang menunjukkan beda usia Aisyah r.a dengan kakaknya Asma, sekitar 10 tahun. Riwayat ini ada di kitab Siyar A�lamal Nubala karangan Al Zahabi. Sedangkan Asma meninggal di usia 100 tahun pada tahun 73 H (diriwayatkan Ibnu Kathir dan Ibnu Hajar). Artinya, Asma lahir tahun 27 Sebelum Hijrah dan Aisyah lahir tahun 17 Sebelum Hijrah.



Sementara itu, para ahli sejarah sepakat bahwa pernikahan Rasulullah SAW dengan Aisyah ra, terjadi pada sekitar tahun 2 H. Berarti Aisyah ra berumah tangga dengan Rasulullah SAW pada usia 19 tahun.



Mudah-mudahan dengan berita ini, tidak ada lagi berita-berita miring yang dialamatkan kepada Rasulullah SAW atas pernikahannya dengan Siti Aisyah. Kalau umur 19 tahun di masa itu, sepertinya sudah layak dianggap dewasa. Secara emosional dan psikologis, umur 19 tahun juga sudah bukan umur anak-anak lagi.



Catatan : Sebagai tambahan dalil�



1. Siti Aisyah Ra. berkata :



�Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab)� ketika Surah Al-Qamar diturunkan (Sahih Bukhari, kitabu�l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa�l-sa`atu adha� wa amarr)�



Untuk dipahami, gadis muda (jariah), adalah mereka yang telah berusia antara 6-13 tahun.



Jika Surat al Qamar, diturunkan pada tahun ke 8 (delapan) sebelum hijriyah (The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), berarti usia Aisyah ra. saat menikah antara 16-23 tahun�



Syekh Muhammad Sayyid At-Thanthawy berpendapat, Surat al Qamar diturunkan pada tahun ke 5 (lima) sebelum hijriah. Jikapun pendapat ini, kita jadikan patokan (dasar), maka akan diperoleh keterangan usia Aisyah ra. saat beliau menikah, antara 13-20 tahun.



2. Berdasarkan Sirah An-Nabawiyah (Ibnu Hisyam, 1/245-262.), dakwah secara siriyyah, yang dilakukan Rasulullah sekitar kurang lebih 3 tahun dan sampai orang Islam berjumlah 40 orang. Sejarah mencatat, Aisyah Ra. adalah orang ke-19 yang menerima Islam, ini berarti beliau masuk Islam pada masa dakwah disampaikan secara siriyyah (sembunyi-sembunyi).



Jika Aisyah Ra. pada tahun 2H saat ia menikah, baru berumur 9 tahun. Maka di masa dakwah secara siriyyah, berdasarkan perhitungan tahun, kemungkinan beliau belum lahir. Bagaimana anak yang belum lahir, bisa bersyahadat ?



3. Mari kita pahami hadits berikut :




Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari �Uqail berkata, Ibnu Syihab maka dia mengabarkan keada saya �Urwah bin Az Zubair bahwa �Aisyah radliallahu �anha isteri Nabi shallallahu �alaihi wasallam berkata; �Aku belum lagi baligh ketika bapakku sudah memeluk Islam�. 



Dan berkata, Abu Shalih telah menceritakan kepada saya �Abdullah dari Yunus dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepada saya �Urwah bin Az Zubair bahwa �Aisyah radliallahu �anha berkata; �Aku belum lagi baligh ketika bapakku sudah memeluk Islam dan tidak berlalu satu haripun melainkan Rasulullah shallallahu �alaihi wasallam datang menemui kami di sepanjang hari baik pagi ataupun petang. Ketika Kaum Muslimin mendapat ujian, Abu Bakar keluar berhijrah menuju Habasyah (Ethiopia) hingga ketika sampai di Barkal Ghomad dia didatangi oleh Ibnu Ad-Daghinah seorang kepala suku seraya berkata; �Kamu hendak kemana, wahai Abu Bakar?� Maka Abu Bakar menjawab: �Kaumku telah mengusirku maka aku ingin keliling dunia agar aku bisa beribadah kepada Tuhanku�. 



Ibnu Ad-Daghinah berkata: �Seharusnya orang seperti anda tidak patut keluar dan tidap patut pula diusir karena anda termasuk orang yang bekerja untuk mereka yang tidak berpunya, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu dan selalu menolong di jalan kebenaran. Maka aku akan menjadi pelindung anda untuk itu kembalilah dan sembahlah Tuhanmu di negeri kelahiranmu. 



Maka Ibnu Ad-Daghinah bersiap-siap dan kembali bersama Abu Bakar lalu berjalan di hadapan Kafir Quraisy seraya berkata, kepada mereka: �Sesungguhnya orang sepeti Abu Bakar tidak patut keluar dan tidak patut pula diusir. Apakah kalian mengusir orang yang suka bekerja untuk mereka yang tidak berpunya, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu dan selalu menolong di jalan kebenaran?� 



Akhirnya orang-orang Quraisy menerima perlindungan Ibnu Ad-Daghinah dan mereka memberikan keamanan kepada Abu Bakar lalu berkata, kepada Ibnu Ad-Daghinah: �Perintahkanlah Abu Bakar agar beribadah menyembah Tuhannya di rumahnya saja dan shalat serta membaca Al Qur�an sesukanya dan dia jangan mengganggu kami dengan kegiatannya itu dan jangan mengeraskannya karena kami telah khawatir akan menimbulkan fitnah terhadap anak-anak dan isteri-isteri kami�. Maka Ibnu Ad-Daghinah menyampaikan hal ini kepada Abu Bakar. Maka Abu Bakar mulai beribadah di rumahnya dan tidak mengeraskan shalat bacaan Al Qur�an diluar rumahnya.



Kemudian Abu Bakar membangun tempat shalat di halaman rumahnya sedikit melebar keluar dimana dia shalat disana dan membaca Al Qur�an. Lalu istrei-isteri dan anak-anak Kaum Musyrikin berkumpul disana dengan penuh keheranan dan menanti selesainya Abu Bakar beribadah. Dan sebagaimana diketahui Abu Bakar adalah seorang yang suka menangis yang tidak sanggup menahan air matanya ketika membaca Al Qur�an.



Maka kemudian kagetlah para pembesar Quraisy dari kalangan Musyrikin yang akhirnya mereka memanggil Ibnu Ad-Daghinah ke hadapan mereka dan berkata, kepadanya: �Sesungguhnya kami telah memberikan perlindungan kepada Abu Bakr agar dia mberibadah di rumahnya namun dia melanggar hal tersebut dengan membangun tempat shalat di halaman rumahnya serta mengeraskan shalat dan bacaan padahal kami khawatir hal itu akan dapat mempengaruhi isteri-isteri dan anak-anak kami dan ternyata benar-benar terjadi. Jika dia suka untuk tetap beribadah di rumahnya silakan namun jika dia menolak dan tetap menampakkan ibadahnya itu mintalah kepadanya agar dia mengembalikan perlindungan anda karena kami tidak suka bila kamu melanggar perjanjian dan kami tidak setuju bersepakat dengan Abu Bakar�. 



Berkata, �Aisyah radliallahu �anha: Maka Ibnu Ad-Daghinah menemui Abu Bakar dan berkata: �Kamu telah mengetahui perjanjian yang kamu buat, maka apakah kamu tetap memeliharanya atau mengembalikan perlindunganku kepadaku karena aku tidak suka bila orang-orang Arab mendengar bahwa aku telah melanggar perjanjian hanya karena seseorang yang telah aku berjanji kepadanya�. Maka Abu Bakar berkata: �Aku kembalikan jaminanmu kepadamu dan aku ridho hanya dengan perlindungan Allah dan RasulNya shallallahu �alaihi wasallam. Kejadian ini adalah di Makkah. 



Maka Rasulullah shallallahu �alaihi wasallam bersabda: �Sungguh aku telah ditampakkan negeri tempat hijrah kalian dan aku melihat negeri yang subur ditumbuhi dengan pepohonan kurma diantara dua bukit yang kokoh. Maka berhijrahlah orang yang berhijrah menuju Madinah ketika Rasulullah shallallahu �alaihi wasallam menyebutkan hal itu. Dan kembali pula berdatangan ke Madinah sebagian dari mereka yang pernah hijrah ke Habasyah sementara Abu Bakar telah bersiap-siap pula untuk berhijrah.



Maka Rasulullah shallallahu �alaihi wasallam berkata, kepadanya: �Janganlah kamu tergesa-gesa karena aku berharap aku akan diizinkan (untuk berhijrah) �. Abu Bakar berkata: �Sungguh demi bapakku tanggungannya, apakah benar Tuan mengharapkan itu?� Beliau bersabda: �Ya benar�. Maka Abu Bakar berharap dalam dirinya bahwa dia benar-benar dapat mendampingi Rasulullah shallallahu �alaihi wasallam dalam berhijrah. Maka dia memberi makan dua hewan tunggangan yang dimilikinya dengan dedaunan Samur selama empat bulan.




sumber : Hadits Bukhari No.2134









Dilansir Bikyamasr.com, Sabtu (8/12), Ulama Pakistan, Hakim Niyaz Ahmad, dalam bukunya terbarunya Kebenaran Usia Aisyah, juga menegaskan hal yang sama bahwa Aisyah telah berumur 19 tahun ketika menikah dengan Rasulullah. 







"Kebanyakan sumber, terutama Abu Naim al-Isfahani, mengatakan Asma 27 tahun ketika pindah ke Madinah. Artinya, Aisyah saat itu setidaknya berusia 17 tahun," tulis Hakim Niyaz, Sabtu (8/12).





Asma merupakan kakak dari Aisyah. Fakta ini sekaligus menggugurkan hadis-hadis yang menyebut Aisyah menikah dengan Nabi Muhammad ketika berusia 9 tahun, seperti diriwayatkan Hisyam Urwa.



Menurut Ulama Pakistan ini, penuturan Hisyam tidak bisa lagi dipercaya karena ketika itu dia sudah berusia 84 tahun. Kebanyakan dari sumber hadis Hisyam sudah meninggal sehingga sulit buat membuktikan ucapannya itu.





Dari hasil penelusuran pelbagai dokumen agama dan sejarah, Hakim menyimpulkan Aisyah memang sudah menginjak usia siap menikah. Dia menjelaskan sebelum menikah dengan nabi, Aisyah sudah bertunangan dengan Jubair bin Mutam. Keluarga calon mempelai lelaki itu kemudian tidak terima setelah calon menantu mereka masuk Islam (mualaf).





Sang ayah, Abu Bakar, lantas berunding dengan keluarga Jubair. Dia ingin memutus ikatan pertunangan antara Aisyah Ra dan Jubair. Perundingan berjalan baik, Aisyah dan Jubair putus hubungan. Selepas itu, baru Nabi Muhammad melamar Aisyah.



Cobalah perhatikan tulisan yang dicetak tebal, pada hadits shahih di atas:


  • �Aisyah radliallahu�anha berkata; �Aku belum lagi baligh ketika bapakku sudah memeluk Islam�




Hal ini bermakna ketika Abu Bakar ra. masuk Islam, Aisyah ra. sudah lahir. Berdasarkan catatan sejarah, Abu Bakar ra. masuk Islam pada tahun-1 Kenabian (tahun ke-10 Sebelum Hijriah).



Dan jika pada saat itu Aisyah ra. baru berusia 7-8 tahun, maka saat beliau berumah tangga dengan Rasulullah, Maka Aisyah ra. telah berusia 19-20 tahun.







Like ? Tweet :










Join ? Follow :











Kisah Uje dan Banci Pengamen





BANYAK kisah tentang bagaimana Ustadz Jeffry Al-Buchory atau biasa dipanggil Uje, berdakwah.



Misalnya saja, suatu kali Uje sedang makan siang di sebuah resto pinggiran jalan. Namanya juga tempat makan dekat pinggir jalan, seorang bencong masuk dan langsung mengamen.



�Idih, endang, endang, ada Uje di sindang bow,� ujar si bencong itu. Uje memang terkenal.



�Ayo, sini masuk, duduk di sini,� ujar Uje.



Bencong itu kebingungan.



Uje berujar lagi, �Ayo masuk, duduk di sini sama saya. Kamu belon makan siang kan? Ayo duduk, makan sama saya.�



Si bencong mendadak jadi jaim. Rumpinya langsung hilang.



�Maaf Uje, saya tadi udah makan.�



�Udah deh � sama ustadz jangan coba-coba boong. Itu dosa namanya,� samber Uje dengan cepat.



Akhirnya bencong itu duduk satu meja dan makan bareng Uje. �Iya iya, Uje.�



Setelah makan siang, bencong itu bertanya sambil terharu. �Uje, saya mau tanya kenapa Uje nggak malu ajak saya makan bareng?�



Uje tesenyum, kemudian menjawab, �Kenapa saya mesti malu? Kamu kan sama dengan saya, sama-sama mahluk ciptaan Allah. Saya wajib menghargai kamu apa adanya.�



Bencong diam dan makin terharu.



Besoknya bencong muncul di masjid. Tidak memakai make up dan rok. Tapi mengenakan kopiah, baju koko, dan sarung.



Sepertinya, apa yang dilontarkan Dorce benar adanya, bahwa Uje, ia tak terlihat seperti ulama, ustadz, atau dai. Dia merangkul semua orang. Ia mampu mendalami apa permasalahan yang terjadi pada setiap orang.



[sa/islampos]







Like ? Tweet :










Join ? Follow :











Profil Tgk Ibrahim Bardan: In Memoriam Abu Panton, Ulama Kharismatik Aceh




tgj.co.id





Tgk H Ibrahim Bardan yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Panton, seorang ulama kharismatik yang sangat dihormati di Aceh.





Ulama kelahiran Matang Jeulikat Kecamatan Seunuddon Kabupaten Aceh Utara pada 1945 Belum bisa mengecap dunia pendidikan umum berawal dari dibakarnya Sekolah Rakyat (SR) tempat di mana ia mengenyam pendidikan pertama pada 1953, oleh pihak yang sedang berkonflik kala itu.






Akibatnya tidak ada lagi pendidikan di kecamatan Seunuddon, Aceh Utara kala itu, namun anak-anak usia sekolah di daerah itu beruntung dapat belajar mengaji dari janda-janda tua dan imam meunasah (mushalla) setempat.








Ia sempat berkeinginan menuntut ilmu di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar Raniry pada 1963, meskipun tidak pernah merasakan pendidikan formal, namun keinginan itu hanya tinggal impian.





Meskipun tidak mengeyam pendidikan formal, Abu Panton menjadi sosok berpengaruh yang berkiprah luas dengan kegiatan padat mulai dari memberi ceramah keagamaan dan diskusi ilmiah bahkan diundang menjadi peserta dan pembicara seminar baik di tingkat nasional maupun internasional.





Mengaku 'Jahil'





Masa hidupnya Abu Panton, sempat mengaku dirinya jahil (bermakna bodoh dalam bahasa Arab) ini karena akibat konflik yang berkepanjangan di Aceh.





�Saya jahil bukan karena malas tapi karena konflik yang membuat miskin sehingga tidak bisa mengenyam pendidikan fomal,� Ucap Abu. �Saya belum ada apa-apanya dibandingkan kawan-kawan semua,� kata Abu merendah.





Ia mengaku hidup dalam keadaan trauma akibat konflik bersenjata, setiap kali diantar untuk belajar mengaji ke dayah-dayah (pesantren) di Aceh selalu merasakan konflik.





�Saat itu saya tidak memiliki cita-cita karena kalau menjadi guru akan dibunuh sementara menjadi ulama juga dikejar-kejar,� kata Abu Panton.





�Sekarang saya juga belum merasa damai meskipun kesepakatan (MoU) damai sudah ditandatangani. Hati saya masih berdebar-debar, khawatir kapan akan terjadi lagi konflik karena damai hanya antara pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bukan dengan rakyat Aceh,� tambah Abu.





Meskipun konflik bersenjata telah berakhir tapi konflik politik maupun konflik lainnya kerap terjadi dalam kehidupan masyarakat Aceh.





�Contohnya seperti sekarang banyak terjadi perceraian, itu karena konflik dalam rumah tangga,� ujarnya.





Kepahitan peristiwa konflik hampir dirasakan oleh semua anak Aceh baik generasi tua maupun generasi muda. Sekarangpun sisa-sisa kepedihan itu masih dirasakan oleh sebagian masyarakat kita. Mungkin karena itu, masalah konflik ini telah menjadi perhatian para ulama, yang salah satu diantaranya adalah Abu Panton.





Wafat





Tepat sekitar pukul 18.30 WIB, Senin 29 April 2013. Ulama Kharismati Aceh Abu Panton, telah berpulang ke rahmatullah dan meninggalkan kita semua.





Abu panton, telah berjasa besar dalam menjaga watak Islam rahmatan lil �alamin di negeri ini. Karenanya kepergiannya Sang Khaliq, umat di Aceh kehilangan lagi satu sosok �Patok� yang mencegah limbung iman.





Sosok ulama santun yang istiqamah yang bicara lembut, tenang dan berwibawa. Kini, Saat satu demi satu Ulama sepuh Alimul �Alamah, Ulama�ul Amiliin, pergi diambil oleh yang pemiliknya, Allah SWT.





"Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu dengan (menghilangkan) akan ilmu itu dengan sekaligus dari (dada) hamba-hamba-Nya. Tetapi Allah Ta�ala menghilangkan ilmu itu dengan mewafatkan alim-ulama sehingga apabila tidak tertinggal satu orang alim pun, manusia akan menjadikan pemimpin-pemimpin dari orang-orang yang bodoh, maka tatkala mereka ditanya (tentang agama), lalu mereka akan berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan". (HR Al-Bukhari, At-Tirmidzi)







Like ? Tweet :










Join ? Follow :











Jelang Wafat, Uje Bayar Parkir Rp.100 Ribu

Tweet Terakhir Ustad Jefri Al Buchori: Pada Akhirnya.....


Menjelang wafat, Ustadz Jefry Al Buchori alias Uje menjadi sangat dermawan dengan membagi-bagi rejeki. Ini dituturkan oleh adik kandung Uje, Fajar Siddik.



Fajar menuturkan bahwa malam itu, Uje menunggang motor sport bernomor polisi B 3590 SGQ, meninggalkan rumah di kompleks Perumahan Bukit Mas Narmada III Bintaro, Rempoa, Tangerang, menuju sebuah kafe di kawasan Kemang Jakarta Selatan.



Rombongan motor itu tiba di lokasi pertemuan sekitar pukul 22.30 WIB. Di tempat itu Uje dan rekan-rekanya membicarakan mengenai program acara Uje di dua stasiun televisi. Sidik mengungkap, terjadi sejumlah kejadian luar biasa di sela perbincangan di kafe kopi yang menjadi tempat pertemuan itu.



Saat itu, Uje menjadi orang yang sangat mudah mengeluarkan uang untuk orang lain.



Setelah panjang lebar berbincang ditemani secangkir kopi, Uje dan rekan-rekannya meninggalkan kafe tersebut menuju tempat parkir.



Sidik mengaku terkejut karena Uje kembali mengeluarkan uang Rp 100 untuk membayar jasa parkir motornya. "Di parkiran ada empat motor, Uje kasih Rp100 ribu. Kami nanya lagi, 'kok Abi baik banget sih. Katanya, ini sudah rezekinya," tuturnya, Sabtu (27/4/2013).



Selanjutnya, rombongan itu pergi meninggalkan kafe dan Uje tetap mengendarai mogenya seorang diri menuju ke rumahnya selepas pukul 01.00 WIB. Namun, Uje selalu dikawal dua rekannya.



Tweet Terakhir Uje



Berpulangnya Uje adalah kehilangan bagi umat. Apalagi, tak hanya berdakwah dari mimbar ke mimbar, Uje juga bersyiar di laman jejaring sosialnya. Salah satunya di Twitter.



Meski tak terlalu aktif di media sosial, Uje selalu menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya. Tweet terakhir yang ia tulis bertanggal 13 Maret 2013.



"Pada akhirnya.. Semua akan menemukan yg namanya titik jenuh.. Dan pada saat itu.. Kembali adalah yg terbaik.. Kembali pada siapa..??? Kpd "DIA" pastinya.. Bismi_KA Allohumma ahya wa amuut.."



Uje dalam Twitternya, 28 Oktober 2012 juga memuji Mak Yati, pemulung mengumpulkan uang hasil jerih payahnya untuk berkurban.



Masih terkait Twitter, tweet dari Ustad Arifin Ilham menjadi salah satu yang pertama mengkonfirmasi kabar duka itu.



Arifin Ilham menulis: "Inna lillaaahi wa inna ilaihi roojiuun, sesungguhnya semuanya milik Allah dan sesungguhnya semua kembali kepada Allah. Telah pulang ke Rahmatullah sahabat kita Ustadz Jefry AlBukhori, yang akrab kita panggil Uje.".



(inilah/liputan6)





Like ? Tweet :
Join ? Follow :

Sosok Misterius Sang 'Pendamping' Ustad Jefry






Beberapa hari sebelum mengalami kecelakaan, Ustaz Jeffry Al Buchori banyak meninggal pesan dan kesan janggal. Salah satunya adalah mengenai sosok yang menurut Jeffry adalah pendamping setianya. Siapa dia?





Sosok misterius diungkapkan oleh anak pertama Jeffry, Adiba Khanza Az Zahra. Adiba mengaku diminta ayahandanya untuk berkenalan dengan 'seseorang' yang selama ini mendampingi ayahnya.






"Ketemu Abi Minggu (21/4). Minggu kayak Abi mau pamit, kan Abi lagi sakit. Tiba-tiba disuruh ke toilet, katanya ada temennya. Aku ke dalam (toilet) gak ada apa-apa, tapi Abi maksa," ujar Adiba di kediamannya, Rempoa, Bintaro, Tangerang, Jumat (26/4).





"Kenalin itu om yang suka jaga Abi," ujar Adiba menirukan suara ayahnya.





Uje meminta Adiba berkenalan dengan seseorang yang berada di dalam toilet tersebut. Meski tak melihat siapa-siapa, Adiba tetap mematuhi perintah sang Abi.




"Tapi aku gak lihat apa-apa cuma ada pantulan cahaya. Akhirnya aku kenalan aja. Tiba-tiba tadi aku dijemput jam 3, kenapa? Katanya Abi kecelakaan," ujar Adiba sambil terisak tangis.





Lalu siapa sosok yang disebut Uje sebagai penjaganya itu? Wallahu'alam...







Like ? Tweet :










Join ? Follow :











Friends

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. test - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger