Recent Movies
Tampilkan postingan dengan label Syar'iah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syar'iah. Tampilkan semua postingan

Menutup atau Membalut Aurat?



Jilbab bukan lagi menjadi kata yang asing didengar, terlebih belakangan ini, di mana wanita muslimah berbondong-bondong untuk mengenakan jilbab � dengan prasangka baik � bahwa mereka melakukannya sebagai wujud ketaatan akan perintah Allah dan Rasul-Nya. Ada perasaan nyaman bagi sebagian orang yang mengenakannya, karena pakaian yang dikenakannya akan meninggalkan kesan yang �lebih Islami�, terlepas dari cara dan mode pakaian yang dia kenakan.


Yang tidak banyak disadari, atau mungkin lebih sering diabaikan, bahwa jilbab bukan sekedar mengenakan pakaian lengan panjang, betis tertutup hingga tumit, dada dan leher terhalang dari padangan orang. Bahwa jilbab bukan sekedar membalut anggota-anggota tubuh yang tidak semertinya terlihat selain mahram. Tidak, Jilbab lebih dari itu!


Allah subhanahu wata�ala berfirman:



??? ???????? ?????????? ???? ??????????? ??????????? ????????? ?????????????? ????????? ??????????? ???? ??????????????


�Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". (QS Al-Ahzab [33] : 59)



Jilbab sejatinya adalah �body covering�, penutup tubuh (aurat) yang akan melindungi seorang wanita, dari pandangan dan penilaian orang lain, khususnya laki-laki, dan bukannya �body shaping�, pembalut tubuh yang menampilkan seluruh lekuk liku tubuh seorang wanita, membuat orang menoleh kepadanya.


Jilbab, di tangan wanita muslimah masa kini, telah kehilangan esensinya. Seperti komentar seorang rekan kerja dulu, ketika melihat dua orang gadis remaja berboncengan dengan jilbab yang serba ketat, �Yah.. jilbab sekarang kan untuk membalut aurat, bukan untuk menutup aurat!�


Padahal Allah subhanahu wa ta�ala telah memperingatkan:



???? ????????? ???????????? ???? ??? ?????? ??????? ?????????????? ????????????? ????? ????????????


�Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya,� (QS An-Nuur [24] : 31)



Saat ini, di tangan wanita muslimah masa kini, jilbab itu sendiri adalah perhiasan. Sebagian orang yang mengenakannya justru mengundang orrang (baca: laki-laki) untuk melihatnya, Betapa tidak, pakaian terututup yang serba ketat justru menggoda orang ingin tahu apa yang ada di baliknya. Baju model baby doll berlengan pendek, dipadu dengan manset dan jeans atau bicycle pants super ketat, atau jenis pakaian ketat yang menampilkan lekuk tubuh lainnya. 


Jika sudah begitu lalu apa bedanya dengan pakaian yang lainnya? Tambahan sepotong kain yang dililitkan pada kepala dan leher tidak menjadikan sebuah pakaian dikatakan berjilbab, karena toh yang memakainya masih terlihat seperti telanjang. 


Padahal Rasulullah telah memberikan peringatan keras, kepada para wanita yang berpakaian tetapi telanjang:



�Ada dua golongan penduduk neraka yang sekarang saya belum melihat keduanya, yaitu: wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang berlenggak-lenggok dan memiringkan kepalanya seperti punuk unta, dimana mereka tidak akan masuk surga, bahkan mencium baunya pun tidak..� 
(HR Muslim dan Ahmad)


Hadits ini telah diabaikan, entah karena tidak tahu, atau mungkin tidak diperdulikan! Atau mungkin terlalu takut untuk mengetahui kebenaran yang akan menyebabkannya merasa terasing dari masyarakat, lalu membuatnya mentup mata, hati dan telinga. Atau bahkan yang lebih mengerikan lagi, dengan sengaja memberikan penafsiran berbeda mengenai perintah untuk menutup aurat itu, demi memenuhi hawa nafsunya!


Aduhai, entah kemana perginya rasa takut itu, seolah-olah kehidpan di dunia ini akan berlangsung selamanya dan ancaman manusia mulia, hamba dan utusan Allah untuk memberikan peringatan kepada manusia, tidak berarti apa-apa kecuali hanya sekedar gertak sambal! Na�udzubillah! 


Entah kemana perginya rasa malu yang seharusnya bermanifestasi pada prilaku dan cara berpakaian? Sebagian besar kita justru terlena pada penilaian kebanyakan orang. �Berjilbab bukan berarti ketinggalan zaman.� Atau, �Dengan jilbab pun bisa tampil modis dan trendi.�



Entah mengapa, kita menjadi latah dengan penilaian orang kafir, mengenakan jilbab syar�I adalah symbol keterbelakangan, bahkan yang lebih menyedihkan lagi yang terjadi akhir-akhir ini, jilbab besar adalah cirri aliran sesat dan pengikut paham esktrimis!


Islam telah memuliakan wanita, menjaga kehormatan wanita dengan menetapkan batasan-batassannya, bukan untuk menjadikan wanita terkekang, sebaliknya bahkan untuk melindungi kaum wanita. Tubuh seorang wanita adalah milik pribadinya, bukan properti umum yang dapat dilirik, ditaksir dan diberikan penilaian. Wanita sejatinya adalah individu yang bebas, ketika dia mengikuti apa yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya bagi dirinya. Jangan mengira bahwa wania-wanita yang tampil trendi itu adalah orang-orang yang memiliki kebebasam memilih, karena toh mereka terkungkung oleh pandangan orang lain. 


Sederhana sekali, jika seseorang atau beberapa orang mengatakan kepada anda �kamu cantik dengan baju ini, atau dengan warna itu,� anda lalu mengikuti perkataannya. Padahal cantik adalah sebuah ukuran relatif yang senantiasa berfluktuasi sepanjang zaman. Layaknya mata uang, ia bisa mengalami devaluasi, Lalu di mana letak kebebasan itu, ketika seorang wanita membiarkan dirinya terbawa arus fluktuasi itu? Pilihan orang banyak adalah pilihannya? Pendapat orang banyak adalah pendapatnya?


Pada kenyataannya, jilbab adalah sesuatu yang masih asing di kalangan wanita muslimah, karena yang bertebaran saat ini hanyalah sekedar penutup kepala, pembalut tubuh, trend mode dan bukannya jilbab yang seharusnya berfungsi untuk menutup aurat dengan sempurna. Wallahu a'lam.


artikel: Learning Page of a Muslim Women - Khayla.net



Like ? Tweet :
Join ? Follow :

Profil Ulama: Siapa Abon Abdul Aziz Samalanga?







Tgk Abdul Aziz Bin M Shaleh, merupakan tokoh yang cukup berpengaruh bagi masyarakat Aceh. Salah satu perannya adalah, Dayah Ma�hadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (MUDI Mesra) Samalanga, kabupaten Bireun, sehingga mencapai kemajuan yang amat pesat.





Kemajuan kini diteruskan oleh pengurus sesudah dayah beliau. Pimpinan MUDI Mesra yang baru mengembangkan pendidikan dayah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) tanpa meninggalkan pola pendidikan dayah yang kini memiliki santri sekitar 3.000-an.





Siapakah Beliau?





Abon Abdul Aziz Samalanga (2)Abon Samalanga merupakan salah seorang ulama kharismatik Aceh. Nama asli beliau Tgk. H. Abdul �Aziz bin M. Shaleh, beliau lebih dikenal dengan panggilan Abon �Aziz Samalanga atau Abon Mesjid Raya Samalanga. Beliau lahir di Desa Kandang Samalanga Kabupaten Aceh Utara (Kabupaten Bireuen sekarang) pada bulan Ramadhan tahun 1351 H/1930 M.





Abon diasuh dan dibesarkan di Jeunieb, ayahandanya pernah menjabat Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Jeunieb. Beliau juga salah seorang pendiri Dayah Darul �Atiq Jeunieb, sehingga Abon dari masa kecilnya sudah mulai belajar ilmu agama di dayah tersebut semasa tinggal di Jeunieb.





Ketika usia Abon telah matang, Abon menikahi seorang gadis di desa Mideun Jok Samalanga yang merupakan putri gurunya sendiri yang merupakan pimpinan Dayah Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Dayah Ma�hadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (MUDI Mesra) Samalanga pada waktu itu sehingga Abon dikaruniai 4 anak, yaitu Alm. Hj. suaibah, hj shalihah, Tgk H Thaillah dan Hj Masyitah.





Abon memulai belajar pada pendidikan formal pada tahun 1937, Abon memasuki sekolah Rakyat (SR) dan menamatkan pendidikan dasarnya pada tahun 1944. Dari tahun 1944 beliau belajar pada orang tuanya selama 2 tahun, kemudian pada tahun 1946 beliau pindah belajar ke Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga yang pada waktu itu dipimpin oleh Tgk Haji Hanafiah (Tengku Abi) lebih kurang selama 2 tahun.





Pada tahun 1948 Abon melanjutkan pendidikannya ke salah satu dayah yang dipimpin oleh Teungku Ben (Teungku Tanjongan) di Matangkuli Kabupaten Aceh Utara. Di dayah ini Abon belajar pada tengku Idris Tanjongan sampa dengan tahun 1949 dan pada tahun tersebut beliau kembali ke Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga untuk mengabdikan diri menjadi guru di dayah tersebut.





Mengabdi untuk Dayah





Setelah beliau mengabdi menjadi guru beberapa tahun, pada tahun 1951 Abon melanjutkan pendidikan ke Dayah Darussalam Labuhan Haji Kabupaten Aceh Selatan yang dipimpin oleh Alm. Teungku Syeikh Muhammad Wali Al-Khalidi yang lebih dikenal dengan panggilan Abuya Mudawali. Abon belajar di Dayah Darussalam lebih kurang selama tujuh tahun.





Selama di Darsusalam beliau belajar dengan tekun, pernah di ceritakan oleh Tgk. Muhammad Amin Tanjongan yang merupakan murid Abon yang juga belajar di Labuhan Haji, bahwa pada saat muthala`ah beliau membuka segala kitab yang berkenaan dengan pelajaran yang sedang beliau pelajari, sehingga kamar beliau terlihat berserakan dengan kitab.





Pada tahun 1958 Abon kembali lagi ke Dayah LPI MUDI Mesjid Raya samalanga untuk mengembangkan ilmunya. Pada tahun tersebut pimpinan Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga meninggal dunia, sehingga Abon diangkat menjadi pimpinan dayah tersebut. Semenjak dayah LPI MUDI Mesjid Raya berada di bawah kepemimpinannya, banyak perubahan terjadi, terutama menyangkut tentang kurikulum pendidikan yang semula tidak terlalu fokus pada ilmu-ilmu alat (bantu) seperti ilmu manthiq, ushul al-fiqh, bayan, ma�ani, dan lain-lain. Keahlian Abon yang sangat menonjol adalah dalam bidang ilmu manthiq sehingga Abon digelar dengan al-Manthiqi.





Abon sangat disiplin dan memiliki semangat luar biasa dalam mengajar, sehingga dalam keadaan beliau sakit pun beliau tetap antusias mengajar. Maka tidak heran jika dalam nasehatnya, beliau selalu mengamanatkan kepada murid-muridnya untuk selalu belajar-mengajar (beut-seumubeut). Dalam pengajarannya, Abon sangat membenci faham Wahabiyyah sehingga beliau tidak pernah bosan dalam mengurai kesesatan faham tersebut. Bahkan hampir setiap hari Abon menyinggung tentang kesesatan faham tersebut.





Kemajuan Pesat





Pada masa kepemimpinan Abon, kemajuan dayah MUDI Mesra semakin meningkat pesat, Jumlah santri dari jumlah ratusan menjadi ribuan, bangunan fisik dayah pun juga berkembang sesuai dengan perkembangan zaman yang terus maju. Selain dari aktifitas Abon di dayah, Abon juga membuka pengajian mingguan di Jeunieb yang dikenal dengan Balee Hameh, karena pengajian diadakan seminggu sekali pada hari Kamis.





Disamping aktifitas dakwah melalui majelis pengajian, Abon juga ikut dalam pembangunan fisik, seperti membangun jalan menuju perkebunan di Desa Gle Mendong Samalanga, dan menggarap sawah yang telah terlantar bertahun-tahun. Bersama-sama dengan murid-muridnya serta dibantu oleh masyarakat sekitar, Abon menata kembali perkebunan dan persawahan telantar, semua beliau lakukan demi hidupnya perekonomian masyarakat.





Dalam dunia perpolitikan, Abon pernah memberi dukungan kepada partai PERTI. Abon memilih partai tersebut karena partai ini berlatarbelakang faham ahlussunnah waljama�ah.





Ada satu pesan yang sangat sering diamanahkan kepada murid-muridnya yaitu belajar-mengajar (beut-seumubeut), di mana pun dan dalam kondisi bagaimana pun sepulang dari dayah nantinya, walau hanya bermodal sebuah balai di depan rumah dan hanya mampu mengajarkan cara membaca al-quran saja.





Pesan tersebut telah menjadi doktrin yang menjiwai pemikiran murid-murid beliau. Kiranya inilah misi utama beliau yang sekarang telah nyata hasilnya. Terbukti dari banyak dayah dan balai pengajian di sebagian besar wilayah Aceh, merupakan lembaga yang dipimpin oleh alumni Dayah LPI MUDI Mesjid Raya. Dari seluruh murid Syeikh Abuya Muda Waly al-Khalidy, Abon Abdul Aziz merupakan ulama yang paling banyak melahirkan penerus. Beliau berhasil mendidik kader ulama melebihi dari murid-murid Abuya yang lain.





Selain pesan untuk selalu beut-seumebeut (belajar mengajar) dalam hal mencari nafakah Abon juga selalu menekankan murid-murid beliau supaya bekerja dan memiliki usaha jangan hanya berpangku tangan mengharap bantuan dan sedekah orang lain yang Abon istilah dengan kata beliau �leubee lam aree�.





Firasat Tajam Abon





Selain itu, Abon juga memiliki firasat yang tajam dan kuat. Ini merupakan salah satu karamah beliau. Beberapa perkataan beliau terbukti kebenarannya. Beberapa kisah ketajaman firasat Abon yang kami dengar antara lain:





Diceritakan oleh Abu Mudi, pada suatu hari datang dua santri baru di dayah Mudi. Pada saat menghadap Abon, salah seorang dari santri baru tersebut dipandang oleh Abon dengan cukup lama, setelah ke dua santri tersebut keluar, Abu Mudi yang menyaksikan hal tersebut bertanya kepada Abon, mengapa Abon berlaku demikian, Abon menjawab �Esok hari ia akan pergi meninggalkan dayah�. Abu Mudi pun bertanya :





�Bagaimana dengan santri yang satu lagi?� Abon menjawab bahwa ia akan bertahan di dayah selama beberapa saat. Esok harinya hal ini terbukti, santri yang dipandang oleh Abon tersebut langsung hengkang dari dayah, sedangkan yang satu lagi tetap bertahan sampai beberapa tahun.





Abon pernah ditanyakan oleh salah satu murid mengapa Abon tidak membentuk ikatan alumni sebagaimana dilakukan oleh Abu Tepin Raya pada Dayah beliau, Darus Sa`adah. Abon menjawab: itu tidak perlu saya pikirkan, suatu saat akan dipikirkan oleh mereka sendiri. Hal ini tersebukti , saat ini alumni Mudi telah memiliki satu ikatan organisasi yang tergabung dalam Yayasan al-Aziziyah.





Abu Mudi menceritakan, Pada awalnya waled Nu (Tgk.Nuruz Zahri, pimpinan pesantren Nurul Aiman, Samalanga) hanya mendirikan panti asuhan bukan sebuah dayah. pada suatu ketika Abon mengatakan kepada bahwa� nyak Nu (waled Nu) suatu saat akan mendirikan Dayah. Hal ini terbukti bahwa sekarang ini panti asuhan yang dikelola Waled Nu telah berkembang menjadi satu dayah yang besar yang terletak tidak jauh dari Dayah Mudi Mesra.





Dalam hal mendidik muridnya, Abon juga mencoba mental murid-murid beliau. Hal ini semua bertujuan untuk tazkiyah hati murid. Seperti yang oleh Abu Mudi, pada suatu hari Abu Mudi sudah siap dengan pakaian yang rapi ingin menuju ke pasar Samalanga, tiba-tiba beliau dipanggil oleh Abon, setelah sampai didepan Abon, beliau mengajak Abu Mudi menuju kesawah tanpa menunggu Abu Mudi mengganti pakain. Akhirnya Abu Mudi ikut bersama Abon menuju sawah dengan pakaian yang rapi. 





Sampai disawah, Abon menyuruh kepada Abu Mudi untuk memperbaiki pematang sawah. Abu Mudi segera melakukannya, sedangkan Abon memperhatikan bagaimana pekerjaan Abu Mudi. Setelah selesai barulah Abon mengatakan bahwa hasil kerja Abu Mudi salah, sehingga Abu Mudi harus memulainya dari pertama lagi. Rupanya Abon sengaja tidak menegur kesalahan Abu Mudi dari awal Karena ingin menguji Abu Mudi. 




Wafat





Abon berpulang ke hadharat-Nya pada tanggal 9 Jumadil Akhir 1409/17 Januari 1989 dalam usia 58. Beliau dikebumikan di Samalanga, di komplek putra Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga Kabuapten Bireuen. Semoga Allah memberi pengampunan kepada beliau, menempatkan beliau dalam satu kebun daripada kebun syurga sesuai dengan amal baik yang telah beliau lakukan. Amiin!





Tepat pada tanggal 20 April 2013, seluruh murid-murid dan pecinta Abon akan memperingati Haul dengan acara doa bersama untuk almarhum Abon serta acara mubahatsah ulama dan seminar . Semoga Allah memberikan kepada kita semua semangat Abon sehingga mampu melanjutkan perjuangan beliau dalam mepertahankan aqidah Ahlus sunnah wal jamaah.



(Buku profil ringkas Dayah MUDI Mesjid Raya, Samalanga / Al-Aziziyah)







Like ? Tweet :










Join ? Follow :











Potret Ideal Pendidikan Islam di Aceh





Santri Dayah MUDI Mesra Samalanga, Kab. Bireuen, Aceh





Oleh Mukhlisudddin, SHI, MA (*




CITA-cita pendidikan Islami di Aceh, masih jauh dari harapan sempurna, setidaknya begitulan rasa kekecewaan yang muncul dari berbagai kalangan, kemajuan pendidikan formal di Aceh, selama ini masih saja terbaca dan terdengar dari berbagai forum dan media. 





Mulai dari forum diskusi, workshop, seminar hingga pada forum konferensi. Mulai dari media cetak hingga media elektronik dan internet. Hingga kini perbincangan tentang perkembangan pendidikan di Aceh masih menjadi isu hangat untuk dibicarakan oleh para pihak dari berbagai kalangan, baik interen seperti kalangan dinas pendidikan, majelis pendidikan, praktisi pendidikan. baik dosen maupun guru. 





Secara lingkup eksteren adalah kalangan masyarakat umum yang menjadi penikmat pendidikan. Berbagai kritik dan bahkan hujatan ditujukan kepada pemerintah daerah dan pemerintah pusat sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap pendidikan di Aceh. Pemda dan jajarannya dipandang belum mampu mewujudkan cita-cita atau visi pendidikan Aceh yang Islami.





Sebenarnya, jika kita mau jujur hubungan antara pendidikan dengan pelaksanaan syariat Islam begitu erat karena pendidikan merupakan salah satu instrumen pelaksanaan syariat Islam itu. Sesungguhnya adalah moment yang sangat tepat ketika pada tahun 2002 secara formal ditetapkan berlakunya syariat Islam di Aceh, segera pula diikuti dengan komitmen untuk melaksanakan sistem pendidikan islami sebagaimana tercantum dalam Qanun Nomor 23 Tahun 2002. 





Sayang sekali upaya pelaksanaan pendidikan Islami belum menjadi harapan masyarakat dan demikian juga halnya dengan pelaksanaan syariat Islam, sehingga tidak heran apabila gejala krisis moral belum pernah berkurang adanya.





Pendidikan Aceh yang Islami adalah konsep ideal bagi Aceh untuk menyiapkan peserta didik atau lulusan pendidikan yang berilmu dan berakhlak islami. Artinya, penerapan pendidikan Aceh yang Islami, juga diartikan merubah iklim di lembaga-lembaga pendidikan formal dan non-formal menjadi Islami dengan menjalan prinsip amar makruf nahi mungkar. 





Di lembaga pendidikan apakah keluarga, sekolah dan masyarakat, prinsip-prinsip dan nilai-nilai keisalam bukan saja diajarkan, tetapi dijalankan secara ideal. Jadi, pendidikan Aceh yang Islami bukan dengan hanya merubah nama atau mengutamakan simbul-simbul keislaman yang tidak membumi, akan tetapi benar-benar diamalkan dan dilaksanakan dalam semua proses kehidupan nyata.





Al-Aziziyah & Konsep Pendidikan Islam





Sebagai lembaga pendidikan Islam yang ternama di Aceh yang membawahi Dayah terbesar di Aceh Dayah MUDI Mesjid Raya dan Kampus STAI Al Aziziyah, Yayasan Pendidikan Islam Al-Aziziyah hingga sekarang telah mampu menjadi cerminan keberhasilan konsep pendidikan Islam dengan mensinergikan perpaduan tradisional dan modern bagi santrinya. 










Jika dulunya kiblat pendidikan Islam di Aceh lebih diutamakan �Darussalam� dengan dua kampus utama, tapi belakangan rasanya kiblat pendidikan sudah mulai bergeser ke Al-Aziziyah, salah satu standart konsep ideal Pendidikan Islam adalah dilihat dari standart mutu materi kurikulum yang islamis, alumni yang senantiasa menjalankan etika-etika Islam dalam kesehariannya, terbebasnya aliran dan pemikiran paham pluralisme, sekulerisme dan liberalisme yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam dalam pembelajaran yang diajarkan serta memiliki peserta didik yang bermoral dan etika Islam, mereka tidak suka membuat onar, tidak suka tawuran dan tentunya memiliki nilai kritis dalam pengembangan keilmuan.





Realita saat ini, di saat masyarakat butuh dengan peradaban baru konsep pendidikan Islam di Aceh, YPI Al-Aziziyah bangkit dengan konsep pendidikan Islamis yang ditawarkan melalui Dayah MUDI Mesjid Raya serta Sekolah Tinggi Agama Islam Al Aziziyah yang menawarkan konsep pendidikan Islam, para mahasiswa disantrikan di dayah dan selanjutnya mahasiswa akan mengikuti pendidikan kuliah di kampus pada sore harinya, setelah pagi dan malam mereka mengikuti pengajian agama di dayah. 





Keseharian mereka berada di bawah kontrol Al-Aziziyah dalam hal peribadatan, interaksi kemasyarakatan, kebersihan hingga pendidikan, para santriwati/mahasiswi menggunakan hijab/cadar untuk lebih menjaga aurat, adanya pemisahan ruang belajar antar mahasiswa dan mahasiswi dan juga dosen pengajar dipilih dengan seselektif mungkin untuk mengantisipasi tidak tersusupnya pemikiran-pemikiran liberal, sekuler dan prularisme.





Potret Ideal Pendidikan Islam





Keberhasilan Al-Aziziyah dalam membangun peradaban baru bagi pendidikan Islam di Aceh tentunya tidak luput dari kiat-kiat yang dilakukan oleh Abu MUDI selaku pimpinan lembaga tersebut dalam menyiapkan sumber daya manusia yang handal untuk mewujudkan tujuan pendidikan Islam yang seutuhnya, faktor keberhasilan Al-Aziziyah lainnya adalah masih kuatnya kekuatan dayah yang sanggup meyakinkan para orang tua calon santri dan mahasiswa untuk menyantrikan anaknya di Al-Aziziyah. 










Hal ini tidak luput dari peran dayah sebagai pusat pendidikan Islam (the central of religius learning) tertua di Aceh, serta peran alumni dayah yang bisa menjadi agen perubahan (agent of change) dalam masyarakat serta tidak membutuhkan biaya besar untuk bisa mengecap pendidikan di dayah, hal ini tentu berbeda jauh dengan sekolah dan kampus lain di Aceh, inilah yang menjadi faktor alternatif bagi masyarakat yang secara ekonomi tidak mampu. Rakyat bisa belajar di dayah meskipun miskin. 





Umumnya, dayah-dayah tidak membebankan murid-muridnya untuk membayar uang pendidikan. Bagi murid yang fakir miskin dayah dengan sendirinya menyediakan makanan, yang diberikan oleh teungku (pimpinan dayah) atau dari masyarakat yang selalu siap membantu.





Mahasiswa yang dididik di Al-Aziziyah mereka diajarkan tatakrama dalam pergaulan sesama santri dan mahasiswa, tatapergaulan dengan guru, dengan orang tua. Mereka juga diajarkan tentang tatacara beribadah sesuai dengan tuntunan agama, mereka diajarkan tauhid dengan berpacu pada I�tiqad Ahlu Sunnah wal Jamaah, selain itu di Al-Aziziyah para santri dan mahasiswa juga diajarkan ilmu umum lainnya, seperti tatacara peradilan, kepengacaraan, sistem evaluasi pendidikan, manajemen pendidikan, strategi komunikasi, dan berbagai life-skill sebagai penunjang hidup di saat mereka sudah meninggalkan Al-Aziziyah dan semuanya diatur dalam konsep pendidikan Islami.





Melalui opini singkat ini, realita di atas menjadi gambaran tentang betapa pentingnya pendidikan Islam di Aceh, dan betapa jauhnya harapan yang telah digantungkan oleh masyarakat Aceh di lembaga pendidikan yang ada di Nanggroe Aceh dan sekarang ini, YPI Al-Aziziyah telah membuka �peradaban baru� dan bangkit sembari menawarkan konsep peradaban pendidikan Islam yang ideal sebagai sebuah potret pendidikan Islam di Aceh dengan berbagai hal dan program kerja yang diterapkan, semoga...





*Penulis, Alumnus Program PPS IAIN Sumatera Utara, Dosen STAI Al Aziziyah Samalanga,


Penyuluh Agama Islam Fungsional di kemenag Kab. Pidie Jaya, Email : mukhlisuddinmarzuki@gmail.com







Like ? Tweet :










Join ? Follow :











Membantah Tuduhan Rasulullah �Fedofilia� Aisyah Ra Menikah di Usia 19 Tahun







Kita selama ini mendapatkan informasi bahwa Rasulullah SAW telah melamar Aisyah RA ketika berumur 6 tahun dan berumah tangga ketika berusia 9 tahun. Selama ini pula, kaum orientalis dan kafir pembenci Islam kerap mengolok Nabi Muhammad seorang pedofilia karena mengawini Aisyah, bocah perempuan berusia sembilan tahun. Namun, ejekan itu kini terbantahkan.





Menjawab pertanyaan benar atau tidak masalah ini, melalui studi kritis terhadap hadits, Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi menemukan informasi baru. Dalam bukunya Umur Aisyah, menegaskan Rasulullah SAW berumah tangga dengan Aisyah Ra saat Aisyah Ra berusia 19 tahun.





Jadi, bagaimana cerita runutnya?!




Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi adalah seorang ahli hadits dari India. Ia lahir tahun 1924 M, putera ulama hadits terkenal Mufti Isyfaq Rahman. Ayahnya ini pernah jadi mufti besar Bhopal India.



Adapun yang menjadi dasar kesimpulan tersebut adalah riwayat yang menunjukkan beda usia Aisyah r.a dengan kakaknya Asma, sekitar 10 tahun. Riwayat ini ada di kitab Siyar A�lamal Nubala karangan Al Zahabi. Sedangkan Asma meninggal di usia 100 tahun pada tahun 73 H (diriwayatkan Ibnu Kathir dan Ibnu Hajar). Artinya, Asma lahir tahun 27 Sebelum Hijrah dan Aisyah lahir tahun 17 Sebelum Hijrah.



Sementara itu, para ahli sejarah sepakat bahwa pernikahan Rasulullah SAW dengan Aisyah ra, terjadi pada sekitar tahun 2 H. Berarti Aisyah ra berumah tangga dengan Rasulullah SAW pada usia 19 tahun.



Mudah-mudahan dengan berita ini, tidak ada lagi berita-berita miring yang dialamatkan kepada Rasulullah SAW atas pernikahannya dengan Siti Aisyah. Kalau umur 19 tahun di masa itu, sepertinya sudah layak dianggap dewasa. Secara emosional dan psikologis, umur 19 tahun juga sudah bukan umur anak-anak lagi.



Catatan : Sebagai tambahan dalil�



1. Siti Aisyah Ra. berkata :



�Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab)� ketika Surah Al-Qamar diturunkan (Sahih Bukhari, kitabu�l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa�l-sa`atu adha� wa amarr)�



Untuk dipahami, gadis muda (jariah), adalah mereka yang telah berusia antara 6-13 tahun.



Jika Surat al Qamar, diturunkan pada tahun ke 8 (delapan) sebelum hijriyah (The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), berarti usia Aisyah ra. saat menikah antara 16-23 tahun�



Syekh Muhammad Sayyid At-Thanthawy berpendapat, Surat al Qamar diturunkan pada tahun ke 5 (lima) sebelum hijriah. Jikapun pendapat ini, kita jadikan patokan (dasar), maka akan diperoleh keterangan usia Aisyah ra. saat beliau menikah, antara 13-20 tahun.



2. Berdasarkan Sirah An-Nabawiyah (Ibnu Hisyam, 1/245-262.), dakwah secara siriyyah, yang dilakukan Rasulullah sekitar kurang lebih 3 tahun dan sampai orang Islam berjumlah 40 orang. Sejarah mencatat, Aisyah Ra. adalah orang ke-19 yang menerima Islam, ini berarti beliau masuk Islam pada masa dakwah disampaikan secara siriyyah (sembunyi-sembunyi).



Jika Aisyah Ra. pada tahun 2H saat ia menikah, baru berumur 9 tahun. Maka di masa dakwah secara siriyyah, berdasarkan perhitungan tahun, kemungkinan beliau belum lahir. Bagaimana anak yang belum lahir, bisa bersyahadat ?



3. Mari kita pahami hadits berikut :




Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari �Uqail berkata, Ibnu Syihab maka dia mengabarkan keada saya �Urwah bin Az Zubair bahwa �Aisyah radliallahu �anha isteri Nabi shallallahu �alaihi wasallam berkata; �Aku belum lagi baligh ketika bapakku sudah memeluk Islam�. 



Dan berkata, Abu Shalih telah menceritakan kepada saya �Abdullah dari Yunus dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepada saya �Urwah bin Az Zubair bahwa �Aisyah radliallahu �anha berkata; �Aku belum lagi baligh ketika bapakku sudah memeluk Islam dan tidak berlalu satu haripun melainkan Rasulullah shallallahu �alaihi wasallam datang menemui kami di sepanjang hari baik pagi ataupun petang. Ketika Kaum Muslimin mendapat ujian, Abu Bakar keluar berhijrah menuju Habasyah (Ethiopia) hingga ketika sampai di Barkal Ghomad dia didatangi oleh Ibnu Ad-Daghinah seorang kepala suku seraya berkata; �Kamu hendak kemana, wahai Abu Bakar?� Maka Abu Bakar menjawab: �Kaumku telah mengusirku maka aku ingin keliling dunia agar aku bisa beribadah kepada Tuhanku�. 



Ibnu Ad-Daghinah berkata: �Seharusnya orang seperti anda tidak patut keluar dan tidap patut pula diusir karena anda termasuk orang yang bekerja untuk mereka yang tidak berpunya, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu dan selalu menolong di jalan kebenaran. Maka aku akan menjadi pelindung anda untuk itu kembalilah dan sembahlah Tuhanmu di negeri kelahiranmu. 



Maka Ibnu Ad-Daghinah bersiap-siap dan kembali bersama Abu Bakar lalu berjalan di hadapan Kafir Quraisy seraya berkata, kepada mereka: �Sesungguhnya orang sepeti Abu Bakar tidak patut keluar dan tidak patut pula diusir. Apakah kalian mengusir orang yang suka bekerja untuk mereka yang tidak berpunya, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu dan selalu menolong di jalan kebenaran?� 



Akhirnya orang-orang Quraisy menerima perlindungan Ibnu Ad-Daghinah dan mereka memberikan keamanan kepada Abu Bakar lalu berkata, kepada Ibnu Ad-Daghinah: �Perintahkanlah Abu Bakar agar beribadah menyembah Tuhannya di rumahnya saja dan shalat serta membaca Al Qur�an sesukanya dan dia jangan mengganggu kami dengan kegiatannya itu dan jangan mengeraskannya karena kami telah khawatir akan menimbulkan fitnah terhadap anak-anak dan isteri-isteri kami�. Maka Ibnu Ad-Daghinah menyampaikan hal ini kepada Abu Bakar. Maka Abu Bakar mulai beribadah di rumahnya dan tidak mengeraskan shalat bacaan Al Qur�an diluar rumahnya.



Kemudian Abu Bakar membangun tempat shalat di halaman rumahnya sedikit melebar keluar dimana dia shalat disana dan membaca Al Qur�an. Lalu istrei-isteri dan anak-anak Kaum Musyrikin berkumpul disana dengan penuh keheranan dan menanti selesainya Abu Bakar beribadah. Dan sebagaimana diketahui Abu Bakar adalah seorang yang suka menangis yang tidak sanggup menahan air matanya ketika membaca Al Qur�an.



Maka kemudian kagetlah para pembesar Quraisy dari kalangan Musyrikin yang akhirnya mereka memanggil Ibnu Ad-Daghinah ke hadapan mereka dan berkata, kepadanya: �Sesungguhnya kami telah memberikan perlindungan kepada Abu Bakr agar dia mberibadah di rumahnya namun dia melanggar hal tersebut dengan membangun tempat shalat di halaman rumahnya serta mengeraskan shalat dan bacaan padahal kami khawatir hal itu akan dapat mempengaruhi isteri-isteri dan anak-anak kami dan ternyata benar-benar terjadi. Jika dia suka untuk tetap beribadah di rumahnya silakan namun jika dia menolak dan tetap menampakkan ibadahnya itu mintalah kepadanya agar dia mengembalikan perlindungan anda karena kami tidak suka bila kamu melanggar perjanjian dan kami tidak setuju bersepakat dengan Abu Bakar�. 



Berkata, �Aisyah radliallahu �anha: Maka Ibnu Ad-Daghinah menemui Abu Bakar dan berkata: �Kamu telah mengetahui perjanjian yang kamu buat, maka apakah kamu tetap memeliharanya atau mengembalikan perlindunganku kepadaku karena aku tidak suka bila orang-orang Arab mendengar bahwa aku telah melanggar perjanjian hanya karena seseorang yang telah aku berjanji kepadanya�. Maka Abu Bakar berkata: �Aku kembalikan jaminanmu kepadamu dan aku ridho hanya dengan perlindungan Allah dan RasulNya shallallahu �alaihi wasallam. Kejadian ini adalah di Makkah. 



Maka Rasulullah shallallahu �alaihi wasallam bersabda: �Sungguh aku telah ditampakkan negeri tempat hijrah kalian dan aku melihat negeri yang subur ditumbuhi dengan pepohonan kurma diantara dua bukit yang kokoh. Maka berhijrahlah orang yang berhijrah menuju Madinah ketika Rasulullah shallallahu �alaihi wasallam menyebutkan hal itu. Dan kembali pula berdatangan ke Madinah sebagian dari mereka yang pernah hijrah ke Habasyah sementara Abu Bakar telah bersiap-siap pula untuk berhijrah.



Maka Rasulullah shallallahu �alaihi wasallam berkata, kepadanya: �Janganlah kamu tergesa-gesa karena aku berharap aku akan diizinkan (untuk berhijrah) �. Abu Bakar berkata: �Sungguh demi bapakku tanggungannya, apakah benar Tuan mengharapkan itu?� Beliau bersabda: �Ya benar�. Maka Abu Bakar berharap dalam dirinya bahwa dia benar-benar dapat mendampingi Rasulullah shallallahu �alaihi wasallam dalam berhijrah. Maka dia memberi makan dua hewan tunggangan yang dimilikinya dengan dedaunan Samur selama empat bulan.




sumber : Hadits Bukhari No.2134









Dilansir Bikyamasr.com, Sabtu (8/12), Ulama Pakistan, Hakim Niyaz Ahmad, dalam bukunya terbarunya Kebenaran Usia Aisyah, juga menegaskan hal yang sama bahwa Aisyah telah berumur 19 tahun ketika menikah dengan Rasulullah. 







"Kebanyakan sumber, terutama Abu Naim al-Isfahani, mengatakan Asma 27 tahun ketika pindah ke Madinah. Artinya, Aisyah saat itu setidaknya berusia 17 tahun," tulis Hakim Niyaz, Sabtu (8/12).





Asma merupakan kakak dari Aisyah. Fakta ini sekaligus menggugurkan hadis-hadis yang menyebut Aisyah menikah dengan Nabi Muhammad ketika berusia 9 tahun, seperti diriwayatkan Hisyam Urwa.



Menurut Ulama Pakistan ini, penuturan Hisyam tidak bisa lagi dipercaya karena ketika itu dia sudah berusia 84 tahun. Kebanyakan dari sumber hadis Hisyam sudah meninggal sehingga sulit buat membuktikan ucapannya itu.





Dari hasil penelusuran pelbagai dokumen agama dan sejarah, Hakim menyimpulkan Aisyah memang sudah menginjak usia siap menikah. Dia menjelaskan sebelum menikah dengan nabi, Aisyah sudah bertunangan dengan Jubair bin Mutam. Keluarga calon mempelai lelaki itu kemudian tidak terima setelah calon menantu mereka masuk Islam (mualaf).





Sang ayah, Abu Bakar, lantas berunding dengan keluarga Jubair. Dia ingin memutus ikatan pertunangan antara Aisyah Ra dan Jubair. Perundingan berjalan baik, Aisyah dan Jubair putus hubungan. Selepas itu, baru Nabi Muhammad melamar Aisyah.



Cobalah perhatikan tulisan yang dicetak tebal, pada hadits shahih di atas:


  • �Aisyah radliallahu�anha berkata; �Aku belum lagi baligh ketika bapakku sudah memeluk Islam�




Hal ini bermakna ketika Abu Bakar ra. masuk Islam, Aisyah ra. sudah lahir. Berdasarkan catatan sejarah, Abu Bakar ra. masuk Islam pada tahun-1 Kenabian (tahun ke-10 Sebelum Hijriah).



Dan jika pada saat itu Aisyah ra. baru berusia 7-8 tahun, maka saat beliau berumah tangga dengan Rasulullah, Maka Aisyah ra. telah berusia 19-20 tahun.







Like ? Tweet :










Join ? Follow :











Lihatlah! Bagaimana Muslim Perlakukan Biksu Myanmar







Sebuah foto interaksi antarumat Buddha dan umat Muslim muncul di laman Facebook. Foto tersebut memperlihatkan bagaimana Muslim Myanmar memberlakukan para biksu dengan baik.





Terlihat Umat Islam memberikan sedekah kepada para biksu Buddha. Di bagian lainnya, terdapat keakraban antara ulama dengan biksu yang sedang menghadiri suatu acara.





Foto tersebut muncul di laman Facebook dengan akun 'STOP Killing Muslims in Burma'. Pengelola akun tersebut memberi komentar di foto tersebut. "How Muslims handle with Buddhist monks. So why you hate them?"





Hanya, persahabatan yang terlihat di foto tersebut ternyata berbanding terbalik dengan realitas di Myanmar. Polisi Myanmar melaporkan, Selasa (30/4) kemarin, kerusuhan antar umat Muslim dengan mayoritas Buddha muncul di kawasan komersial kota Oakkan. Kota ini berjarak 100 kilometer utara Yangon, ibu kota Myanmar.





Sekelompok umat Buddha bersenjatakan batu merusak masjid dan kemudian menghancurkan puluhan toko kaum muslim. Pemicu kerusuhan ini hanya karena adanya isu seorang perempuan Muslim sengaja menabrak biksu Buddha yang sedang meminta di jalan. \ rol







Like ? Tweet :










Join ? Follow :











Misi Muslimah AS: Jadikan Jilbab se-populer Celana Jeans



Muslimah Amerika Serikat tak berhenti mempromosikan pemakaian jilbab kepada masyarakat AS. Itu sebabnya kontes jilbab di AS mulai diminati.



Kontes jilbab dipilih bukan tanpa alasan. Selain sebagai wadah promosi ajaran Islam, kontes ini merupakan wadah menggalang toleransi.



Namun, misi besar yang diemban Muslimah AS melalui kontes ini adalah menjadikan jilbab seperti celana jeans. Jenis pakaian sehari-hari yang begitu diterima dan dikagumi masyarakat AS.



Sarah Musa, desainer Muslimah, menilai mempromosikan ajaran Islam melalui jilbab merupakan strategi yang efektif. Disini, masyarakat AS dapat melihat bagaimana Islam menghormati perempuan. Jadi, jilbab itu bukan mengekang kebebasan perempuan.



"Dan menutupi tubuh juga bisa modis, apakah itu anda mengenakan topi, sorban, atau apa pun itu masih jilbab," kata dia seperti dikutip onislam.net, Kamis (2/4).



Musa mengatakan, kontes dari jilbab ini juga mencerminkan keinginan Muslimah AS bahwa mereka yang mengenakan jilbab merasa bebas.



"Kita di AS mungkin bisa mengenakan celana jeans dan jaket jeans. Kreativitas menjadi tidak terbatas, namun masih dalam koridor kesopanan. Jadi, berhijab versi AS," kata dia. []



(on-islam/rol)





Like ? Tweet :
Join ? Follow :

Tahukah Anda: Lambang Merpati Putih, Simbol Perdamaian dari Ajaran Nasrani







BANYAK masyarakat muslim memakai lambang merpati putih sebagai simbol perdamaian. Tidak jarang dalam acara deklarasi perdamaian, burung merpati putih sengaja diterbangkan sebagai bagian dari simbolisasi perdamaian. Padahal simbol merpati putih sangat terkait dengan konsep ajaran agama Kristen.





Dalam tulisannya, Penuntun Simbol-simbol Ibadah Kristen: Sebuah Ensiklopedi Dasar, Markus Hildebrandt menyatakan bahwa simbol Burung merpati dalam tradisi Kristen dipahami sebagai simbol kehadiran Roh Kudus yang mengingatkan kita pada peristiwa baptisan Yesus oleh Yohanis Pembaptis (Mat 3:16 bdk Mrk, Luk dan Yoh)





Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya. (Matius 3: 16)





Seekor burung merpati dengan sebuah ranting zaitun juga telah menjadi simbol universal untuk perdamaian dan mengingatkan pada kisah Nuh (Kej 8:11), di mana sehelai daun zaitun menjadi tanda bahwa air bah telah surut dan simbol untuk perjanjian Allah dengan umat manusia dan segala ciptaan-nya.





�Menjelang waktu senja pulanglah burung merpati itu mendapatkan Nuh, dan pada paruhnya dibawanya sehelai daun zaitun yang segar. Dari situlah diketahui Nuh, bahwa air itu telah berkurang dari atas bumi.� (Kejadian 8: 11)





Tidak hanya itu saja, orang Kristen dan Katolik saat menikah di gereja pun menggunakan simbol merpati putih. Hal itu dimaksudkan agar kebersamaan pasangan tersebut dapat terjalin langgeng dan awet selamanya seperti sepasang burung merpati. Mereka juga menggunakan simbol merpati putih karena burung merpati adalah burung yang selalu setia dan tidak pernah ingkar janji terhadap pasangannya.





Lagi-lagi opini ini berkembang ketika Tuhan Yesus diurapi oleh Roh Kudus di sungai Yordan, maka Roh Kudus datang seperti burung merpati. Roh Kudus kemudian mengurapi Yesus, ia datang sebagai burung merpati yang menandakan bahwa dalam diri Yesus tidak ada satupun yang perlu dibakar atau disucikan, sebab Yesus sebagai Anak Allah kudus tanpa cela.





Sifat-sifat merpati yang tulus, penuh kasih, lemah-lembut, tidak membalas, tidak menyakiti, selalu berdamai, inilah yang kemudian dinisbatkan pada Yesus Kristus. Karena itu, Roh Kudus dilambangkan sebagai burung merpati.�





Oleh karenanya kita harus berhati-hati dalam memakai simbol, karena simbol dalam padanan iman Kristen, bukan sekedar gambar an sich, tapi juga keniscayaan teologis.





Theolog protestan, Paul Tillich, misalnya yang menjadi peletak dasar kajian Simbol mengatakan bahwa simbol adalah konsep yang tersirat dalam sebuah perspektif keagamaan. Seperti dikutip F.W. Dillistone, dalam bukunya Daya Kekuatan Simbol (Yogyakarta: Kanisius 2002), Tillich mendefinisikan: 





�Simbol keagamaan dibedakan dari simbol-simbol yang lain oleh kenyataan bahwa simbol keagamaan merupakan representasi dari sesuatu yang sama sekali ada di luar bidang konseptual; simbol keagamaan menunjuk kepada realitas tertinggi yang tersirat dalam tindak keagamaan, kepada apa yang menyangkut diri kita pada akhirnya�.





Maka itu, kita sebagai umat muslim harus senantiasa menghindari sebuah sikap penyepelean terhadap masalah simbol-simbol kafir yang terkait dengan keimanan. Sebab kita diharamkan untuk mengikuti konsep dan millah mereka dalam mengambil sebuah sudut pandang.





�Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.� (HR Abu Daud, dan At-Thabrani dalam Al-Awsath, dari Hudzaifah, berderajat hasan). 



Wa Allahua�lam....






(islampos/pizzaro)







Like ? Tweet :










Join ? Follow :











Profil Tgk Ibrahim Bardan: In Memoriam Abu Panton, Ulama Kharismatik Aceh




tgj.co.id





Tgk H Ibrahim Bardan yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Panton, seorang ulama kharismatik yang sangat dihormati di Aceh.





Ulama kelahiran Matang Jeulikat Kecamatan Seunuddon Kabupaten Aceh Utara pada 1945 Belum bisa mengecap dunia pendidikan umum berawal dari dibakarnya Sekolah Rakyat (SR) tempat di mana ia mengenyam pendidikan pertama pada 1953, oleh pihak yang sedang berkonflik kala itu.






Akibatnya tidak ada lagi pendidikan di kecamatan Seunuddon, Aceh Utara kala itu, namun anak-anak usia sekolah di daerah itu beruntung dapat belajar mengaji dari janda-janda tua dan imam meunasah (mushalla) setempat.








Ia sempat berkeinginan menuntut ilmu di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar Raniry pada 1963, meskipun tidak pernah merasakan pendidikan formal, namun keinginan itu hanya tinggal impian.





Meskipun tidak mengeyam pendidikan formal, Abu Panton menjadi sosok berpengaruh yang berkiprah luas dengan kegiatan padat mulai dari memberi ceramah keagamaan dan diskusi ilmiah bahkan diundang menjadi peserta dan pembicara seminar baik di tingkat nasional maupun internasional.





Mengaku 'Jahil'





Masa hidupnya Abu Panton, sempat mengaku dirinya jahil (bermakna bodoh dalam bahasa Arab) ini karena akibat konflik yang berkepanjangan di Aceh.





�Saya jahil bukan karena malas tapi karena konflik yang membuat miskin sehingga tidak bisa mengenyam pendidikan fomal,� Ucap Abu. �Saya belum ada apa-apanya dibandingkan kawan-kawan semua,� kata Abu merendah.





Ia mengaku hidup dalam keadaan trauma akibat konflik bersenjata, setiap kali diantar untuk belajar mengaji ke dayah-dayah (pesantren) di Aceh selalu merasakan konflik.





�Saat itu saya tidak memiliki cita-cita karena kalau menjadi guru akan dibunuh sementara menjadi ulama juga dikejar-kejar,� kata Abu Panton.





�Sekarang saya juga belum merasa damai meskipun kesepakatan (MoU) damai sudah ditandatangani. Hati saya masih berdebar-debar, khawatir kapan akan terjadi lagi konflik karena damai hanya antara pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bukan dengan rakyat Aceh,� tambah Abu.





Meskipun konflik bersenjata telah berakhir tapi konflik politik maupun konflik lainnya kerap terjadi dalam kehidupan masyarakat Aceh.





�Contohnya seperti sekarang banyak terjadi perceraian, itu karena konflik dalam rumah tangga,� ujarnya.





Kepahitan peristiwa konflik hampir dirasakan oleh semua anak Aceh baik generasi tua maupun generasi muda. Sekarangpun sisa-sisa kepedihan itu masih dirasakan oleh sebagian masyarakat kita. Mungkin karena itu, masalah konflik ini telah menjadi perhatian para ulama, yang salah satu diantaranya adalah Abu Panton.





Wafat





Tepat sekitar pukul 18.30 WIB, Senin 29 April 2013. Ulama Kharismati Aceh Abu Panton, telah berpulang ke rahmatullah dan meninggalkan kita semua.





Abu panton, telah berjasa besar dalam menjaga watak Islam rahmatan lil �alamin di negeri ini. Karenanya kepergiannya Sang Khaliq, umat di Aceh kehilangan lagi satu sosok �Patok� yang mencegah limbung iman.





Sosok ulama santun yang istiqamah yang bicara lembut, tenang dan berwibawa. Kini, Saat satu demi satu Ulama sepuh Alimul �Alamah, Ulama�ul Amiliin, pergi diambil oleh yang pemiliknya, Allah SWT.





"Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu dengan (menghilangkan) akan ilmu itu dengan sekaligus dari (dada) hamba-hamba-Nya. Tetapi Allah Ta�ala menghilangkan ilmu itu dengan mewafatkan alim-ulama sehingga apabila tidak tertinggal satu orang alim pun, manusia akan menjadikan pemimpin-pemimpin dari orang-orang yang bodoh, maka tatkala mereka ditanya (tentang agama), lalu mereka akan berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan". (HR Al-Bukhari, At-Tirmidzi)







Like ? Tweet :










Join ? Follow :











Satu Keluarga Masuk Islam di Aceh




hidayatullah





Tertarik dengan ajaran Islam, satu keluarga Katholik di Dusun Sigarap Desa Sikoran Danau Paris memutuskan masuk Islam. Teungku Jamaluddin, Da�i perbatasan di desa Napagaluh Kecamatan Danau Paris Kabupaten Aceh Singkil mengatakan telah mensyahadatkan satu keluarga Katholik hari Sabtu.





Menurut keterangan Teungku Jamaluddin, kesan dan alasan mereka sehingga memutuskan untuk masuk Islam disebabkan karena mereka melihat adanya keseragaman umat Islam dalam beribadah terutama ketika datang ke masjid semua berbusana yang sama dengan memakai mukena putih sehingga tidak menghilangkan perbedaan antara kaya miskin.





�Islam juga melarang kita menampakkan aurat kepada orang lain,� ujar Jamaluddin Sabtu, (27/04/2013) kemarin.





Kelima muallaf ini adalah; Tias Mida Br Sitorus (orang tua), Rika Maria Br Malau (Anak Perempuan), Reno Josep Malau (Anak Laki-laki), Romiana Maria Br Malau (Anak Perempuan) dan Rikki Neysyen Josep Malau.





Menurut keterangan muallaf kepada Teungku Jamaluddin, alasan lain memutuskan masuk Islam adalah karena mereka terkesan dengan agama Islam melalui ajaranya yang sangat selektif dalam memilih makanan yang bersih dan kesucian lain. Hal ini, menurutnya membuat banyak umat Islam yang �bercahaya� wajahnya. Apalagi saat melakukan ibadah sebelumnya mereka diperintahkan untuk bersuci.





Dan yang paling mereka suka dan tertarik ketika melihat umat Islam datang ke masjid untuk beribadah, mereka diwajibkan untuk membuka sepatu dan sandal agar bisa masuk ke Masjid karena mereka sangat menyadari bahwa Masjid itu adalah rumah Allah (rumah tuhan) yang wajib dijaga kesuciannya.





Sementara itu, di daerah dekat masjid tempat Teungku Jamaluddin bertugas untuk dilakukan pembinaan intensif dalam mengajari dasar-dasar agama Islam.





Sebelumnya, Teungku Jamaluddin dan kawan-kawannya juga sudah mensyahadatkan banyak pemuda Katolik dan saat ini mereka dibawa ke lembaga pendidikan dayah di beberapa dayah di Aceh untuk mendapatkan pendidikan Islam yang intensif. Salah satu dayah yang menampung muallaf ini adalah Dayah Mahyal Ulum di Kecamatan Sibreh Aceh Besar.





Perhatian pemerintah kurang





Meski kebutuhan pembinaan muallaf di Aceh cukup besar, menurut Jamaluddin, hingga saat ini mereka kekurangan bantuan biaya pendidikan mereka. Karena itu Jamaludin mengharapkan perhatian pemerintah khususnya instasi yang menangani santunan dan bantuan para muallaf yang baru masuk Islam seperti Baitul Maal dan juga masyarakat Muslim lainnya yang memiliki kemampuan.





Menurut Teungku Jamaluddin, keluarga ini merupakan kurang mampu dan juga mereka anak yatim yang sudah di tinggalkan ayahnya 5 tahun yang lau. Mereka mempunyai keinginan dan kesungguhan untuk mempelajari Islam. Mereka memiliki enam bersaudara, sedangkan dua anggota keluarga lagi masih berada di Kabanjahe dan Dolok Sanggul Sumatera Utara yang isyaAllah kedua orang ini akan menyusul masuk Islam kata Ibunya seperti yang dituturkan oleh Teungku Jamaluddin.





Setelah mengaku mensyahadatkan satu keluarga ini, Jamaluddin yang juga da�i perbatasan yang telah dikirim oleh Dinas Syari�at Islam Prov. Aceh ini saat ini sedang berupaya mencari rumah kontrakan untuk keluarga mualaf tersebut. Siapa mau bantu?.*



(Hidayatullah/Teuku Zulkhairi, Aceh)







Like ? Tweet :










Join ? Follow :











Habib Rizieq: �Aceh Harus Menjadi Imam Bagi Provinsi Lain�




Ketua FPI Habib Rizieq Shihab



PEMBERLAKUAN syariat Islam di Aceh merupakan ujian bagi Indonesia. Jika gagal di Aceh, maka akan menjadi preseden buruk bagi daerah lain yang menginginkan pemberlakuan syariat Islam. Sebaliknya, jika syariat Islam berjalan dengan baik di Aceh, maka provinsi lain akan meniru langkah Aceh.



Habib Rizirq bicara berapi-api dalam pertemuan sekitar tiga jam itu. Ia menyampaikan materi terkait UUD 1945, konstitusi negara yang membolehkan syariat Islam berlaku di Indonesia. Ia ingin syariat Islam bukan hanya untuk Aceh saja, tetapi berlaku pula untuk provinsi lain di Indonesia. Pemberlakuan syariat Islam tidak akan mengganggu hak nonmuslim.



Penegasan ini disampaikan Ketua Umum DPP Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq, di Asrama Haji, Banda Aceh, Minggu (21/04/2013). Habib Rizieq disambut ratusan kader FPI Aceh. Saat ia menyampaikan materi ratusan kader FPI menerikaan kalimat Allahuakbar.






220413foto_1.jpg
Dr Habib Rizieq Shihab, berdialog tentang penegakan syariat Islam.


Menurut Habib Rizieq, di Indonesia hukum pidana Islam belum berjalan, karena di Jakarta pemerintahnya belum bersyariat. Oleh karena itu, pilih pemimpin atau anggota legislatif orang yang pro-syariat Islam.




�Kalau pemerintah dan legislatifnya orang yang pro-syariat, maka insya Allah, syariat Islam akan menjadi landasan utama di Indonesia,� ujar Habib.





Aceh, kata Habib Rizieq, berlabel Serambi Mekkah dan tempat Islam pertama datang. Aceh harus menjadi imam dan lokomotif untuk mengajak provinsi lain menerapkan syariat Islam.



�Kenapa pelaksanaan syariat Islam di Aceh penting, karena ini menjadi contoh di tingkat nasional. Kalau gagal, maka menjadi modal bagi kelompok antisyariat Islam untuk mengatakan pada daerah lain tak perlu minta syariat Islam,� ujar Habib.



Saat ia katakan bahwa Aceh harus bersyariat Islam serta menjadi contoh bagi daerah lain, suara teriakan �Allahu akbar� dari peserta seminar di dalam ruangan asrama haji.



�Saya ajak seluruh konponen di Aceh jangan tinggalkan DSI untuk penerapan syariat Islam. Penerapan syariat Islam wajib berhasil,� tandasnya.



Ia menjelaskan, alasan kelompok anti syariat Islam hanya alasan yang dibuat-buat tentang bahaya Syariat Islam. Syariat Islam tak boleh berlaku karena takut investor tak datang, itu alasan klasik dan harus diabaikan, katanya. Alasan lainnya yang sering dipakai adalah pelanggaran HAM, menurutnya juga tidak mendasar.



Menurut Habib, alasan yang sering dilontarkan bahwa syariat Islam melanggar HAM, tidak mendasar. Dalam konstitusi NKRI penerapan syariat Islam adalah konstitusional.



�Syariat Islam harus berlaku di seluruh Indonesia untuk menuju NKRI bersyariat,� ujar Habib berapi-api.



(serambi indonesia)







Like ? Tweet :










Join ? Follow :











Menjelang Kiamat, Manusia Berzina di Jalanan







TELAH banyak kita saksikan pada saat ini perzinaan merebak di mana-mana. Namun, menjelang hari kiamat, setelah manusia melewati zaman keemasan (dengan turunnya Nabi Isa AS dan dipimpinnya manusia oleh al-Mahdi), manusia akan hidup dalam kondisi yang seburuk-buruknya, layaknya binatang. Rasulullah SAW menceritakan tentang peristiwa itu sebagaimana yang diriwayatkan Abu Hurairah RA:






�Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, umat ini tidak akan punah, sampai ada laki-laki mendatangi perempuan, lalu menyetubuhinya di jalan. Lantas orang yang terbaik pada saat itu adalah yang mengatakan: �Alangkah baiknya jika kamu bersembunyi di balik tembok ini.� (H.R Abu Ya�la)






Inilah puncak kebejatan manusia dalam perzinaan yang akan terulang kembali di akhir zaman, pasca wafatnya Nabi Isa AS dan Imam Mahdi.



Manusia akan kembali ke zaman jahiliyah, bahkan lebih buruk lagi. Orang-orang yang tidak waras akan melakukan hubungan badan layaknya binatang secara terang-terangan, di jalanan, di jembatan, di tempat terbuka dan banyak ditonton orang.





Parahnya lagi, orang-orang terbaik saat itu tidak mampu berkomentar apa-apa saat menyaksikannya, selain menghimbau agar pelaku zina di tempat itu menyingkir dan melakukannya di di tempat yang agak tertutup. 





Bahkan, ada di antara orang terbaik saat itu yang melihatnya juga tertarik untuk melakukan perbuatan bejat tersebut, namun hati nuraninya meminta dirinya untuk melakukannya di tempat yang tersembunyi. Jika demikian adalah manusia terbaik saat itu, bagaimana dengan manusia bejatnya?






Rasulullah SAW bersabda : �Dan yang tersisa adalah seburuk-buruk manusia, mereka melakukan hubungan intim di dalamnya bagaikan keledai, maka pada merekalah kiamat akan terjadi.� (H.R Muslim)






Maka beruntung hari ini masih ada orang-orang waras dan sehat yang menolak dan mengutuk tindakan bejat dan kriminal tersebut. Wallahu�alam... 





[islampos/arrisalah]







Like ? Tweet :










Join ? Follow :











Kisah Waliyullah Aceh, Abu Ibrahim Woyla




Almarhum (Waliyullah) Aceh, Abu Ibrahim Woyla





Keajaiban-keajaiban yang melekat pada sosook Abu Ibrahim Woyla, yang oleh sebagian ulama di Aceh menilai bahwa Abu Ibrahim Woyla adalah seorang ulama yang sudah mencapai tingkat Waliyullah (Wali Allah)





Abu Ibrahim Woyla adalah seorang ulama pengembara. Ulama ini dalam masyarakat Aceh lebih dikenal dengan Abu Ibrahim Karamah (Keramat). Belum pernah terjadi dalam sejarah di Woyla (Aceh Barat) bila seseorang meninggal ribuan orang datang melayat (takziah) kecuali pada waktu wafatnya Abu Ibrahim Woyla. Selama hampir 30 hari meninggalnya Abu Ibrahim Woyla masyarakat Aceh berduyun-duyun datang melayat ke kampung Pasi Aceh, Kecamatan Woyla Induk, Aceh Barat sebagai tempat peristirahatan terakhir Abu Ibrahim Woyla. 





Selama 30 hari itu ribuan orang setiap hari tak kunjung henti datang menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Abu Ibrahim Woyla, sehingga pihak keluarga menyediakan 400 kotak air aqua gelas dan tiga ekor lembu setiap hari dari sumbangan mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf untuk menjamu tamu yang datang silih berganti ke tempat wafatnya Abu Ibrahim Woyla. Begitulah pengaruh ke-ulama-an Abu Ibrahim Woyla dalam pandangan masyarakat Aceh, terutama di wilayah Pantai barat selatan Aceh.





Abu Ibrahim Woyla yang bernama lengkap Teungku (Ustadz/Kiyai) Ibrahim bin Teungku Sulaiman bin Teungku Husen dilahirkan di kampung Pasi Aceh, Kecamatan Woyla, Kabupaten Aceh Barat pada tahun 1919 M. Menurut riwayat, pendidikan formal Abu Ibrahim Woyla hanya sempat menamatkan Sekolah Rakyat (SR), selebihnya menempuh pendidikan Dayah (Pesantren Salafi/Tradisional) selama hampir 25 tahun. Sehingga dalam sejarah masa hidupnya Abu Ibrahim Woyla pernah belajar 12 tahun pada Syeikh Mahmud seorang ulama asal Lhok Nga Aceh Besar yang kemudian mendirikan Dayah Bustanul Huda di Kecamatan Blang Pidie, Aceh Barat Daya. Di antara murid Syeikh Mahmud ini selain Abu Ibrahim Woyla juga Abuya Syeikh Muda Waly Al-Khalidy yang kemudian Abu Ibrahim Wayla berguru padanya, Abuya Muda Waly adalah sebagai seorang ulama tareqat naqsyabandiyah tersohor di Aceh.





Menurut keterangan, Syeikh Muda Waly hanya sempat belajar pada Syeikh Mahmud sekitar 3 tahun, kemudian pindah ke Aceh Besar dan belajar pada Abu Haji Hasan Krueng Kale dan Abu Hasballah Indrapuri. setelah itu Syeikh Muda Waly pindah ke Padang dan belajar pada Syeikh Jamil Jaho di Padang Panjang. beberapa tahun di Padang Syeikh Muda Waly melanjutkan pendidikan ke Mekkah, kemudian Syeikh Muda Waly kembali kepadang dan pulang ke Aceh Selatan untuk mendirikan Pesantren Tradisional di Labuhan Haji Aceh Selatan. 





Saat itulah Abu Ibrahim Woyla sudah mengetahui bahwa Syeikh Muda Waly telah kembali dari Mekkah dan mendirikan Dayah, maka Abu Ibrahim Woyla kembali belajar pada Syeikh Muda Waly untuk memperdalam ilmu tareqat naqsyabandiyah. Namun sebelum itu Abu Ibrahim Woyla pernah belajar pada Abu Calang (Syeikh Muhammad Arsyad) dan Teungku Bilal yatim (Suak) bersama rekan seangkatannya yaitu (alm) Abu Adnan Bakongan.





Setelah lebih kurang 3 tahun memperdalam ilmu tareqat pada Syeikh Muda Waly, Abu Ibrahim Woyla kembali ke kampung halamannya, tapi tak lama setelah itu Abu Ibrahim Woyla mulai mengembara yang dimana keluarga sendiri tidak mengetahui kemana Abu Ibrahim Woyla pergi mengembara. Menurut riwayat dari Teungku Nasruddin (menantu Abu Ibrahim Woyla) semasa hidupnya Abu Ibrahim Woyla pernah menghilang dari keluarga selama tiga kali, Pertama, Abu Ibrahim Woyla menghilangkan diri selama 2 bulan, Kedua, Abu Ibrahim Woyla menghilang selama 2 tahun dan Ketiga, Abu Ibrahim Woyla menghilangkan diri selama 4 tahun yang tidak diketahui kemana perginya.





Dalam kali terakhir inilah Abu Ibrahim Woyla kembali pada keluarganya di Pasi Aceh, pihak keluarga tidak habis pikir pada perubahan yang terjadi pada Abu Ibrahim Woyla. Rambut dan jenggotnya sudah demikian panjang tak ter-urus, pakaiannya sudah compang camping dan kukunya panjang seadanya. mungkin bisa kita bayangkan seseorang yang menghilang selama 4 tahun dan tak sempat untuk mengurus dirinya.



Begitulah kondisi Abu Ibrahim Woyla ketika kembali ke tengah keluarganya setelah 4 tahun menghilang, maka wajar bila secara duniawiyah dalam kondisi seperti itu sebagian masyarakat Woyla menganggap Abu Ibrahim Woyla sudah tidak waras lagi.




Abu Ibrahim Woyla oleh banyak orang dikenal sebagai ulama agak pendiam dan ini sudah menjadi bawaannya sewaktu kecil hingga masa tua. Beliau hanya berkomunikasi bila ada hal yang perlu untuk disampaikan sehingga banyak orang yang tidak berani bertanya terhadap hal-hal yang terkesan aneh bila dikerjakan Abu Ibrahim Woyla.






Almarhum Abu Ibrahim Woyla



Sikap Abu Ibrahim Woyla seperti itu sangat dirasakan oleh keluarganya, namun karena mereka sudah tau sifat dan pembawaannya demikian, keluarga hanya bisa pasrah terhadap pilihan jalan hidup yang ditempuh Abu Ibrahim Woyla yang terkadang sikap dan tindakannya tidak masuk akal. Tapi begitulah orang mengenal sosok Abu Ibrahim Woyla.





Abu Ibrahim Woyla memiliki dua orang isteri, isteri pertama bernama Rukiah, dari hasil pernikahan ini Abu Ibrahim Woyla dikaruniai 3 orang anak, seorang laki-laki dan 2 perempuan. yang laki-laki bernama Zulkifli dan yang perempuan bernama Salmiah dan Hayatun Nufus. Sementara pada isteri keduanya yang beliau nikahi di Peulantee, Aceh Barat, dua tahun sebelum beliau meninggal tidak dikaruniai anak.





Menurut cerita tatkala isteri pertamanya hamil 6 bulan untuk anak pertama yang dikandung Ummi Rukian, kondisi Abu Ibrahim Woyla saat itu seperti tidak stabil, sehingga beliau mengatakan pada isterinya �Saya mau belah perut kamu untuk melihat anak kita�, kata Abu Ibrahim Woyla pada isterinya yang pada saat itu membuat keluarganya tak habis pikir terhadap apa yang diucapkan Abu Ibrahim Woyla pada isterinya itu. Karena perkataan seperti itu dianggap perkataan yang sudah diluar akal sehat, maka keluarga dengan cemas menggatakan kita tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh Abu Ibrahim Woyla yang meminta untuk membelah perut isterinya yang sedang mengandung 6 bulan. Meskipun begitu, perkataan yang pernah diucapkan itu tak pernah dilakukannya.





Pada tahun 1954 sebenarnya tahun yang sangat membahagiakan bagi pasangan suami-isteri karena pada tahun itu lahir anak pertama dari pasangan Abu Ibrahim Woyla dan Ummi Rukiah, akan tetapi kehadiran seorang pertama itu bagi Abu Ibrahim Woyla bukanlah sesuatu yang istimewa. Abu Ibrahim Woyla saat itu hanya pulang sebentar menjenguk anaknya yang baru lahir, kemudian beliau pergi kembali mengembara entah kemana. Ketika anak pertamanya yang diberi nama Salmiah sudah besar, menurut cerita Teungku Nasruddin barulah kondisi Abu Ibrahim Woyla kembali normal hidup bersama keluarganya. Dan saat itu Abu Ibrahim Woyla sempat membuka lahan perkebunan di Suwak Trieng untuk menjadi harta yang ditinggalkan untuk keluarganya di kemudian hari.





Pada saat itu kehidupan Abu Ibrahim Woyla bersama keluarganya sudah sangat harmonis hingga lahir anak kedua, Hayatun Nufus dan anaknya yang ketiga Zulkifli. Semua keluarganya sangat bersyukur karena Abu Ibrahim Woyla telah tinggal bersama keluarganya. Namun apa mau dikata, tak lama setelah lahir anaknya yang ketiga Abu Ibrahim Woyla kembali meninggalkan keluarganya dan entah kemana. Sehingga Ummi Rukiah tidak tahan lagi dengan ketidakpedulian Abu Ibrahim Woyla terhadap nafkah keluarganya, isterinya minta untuk pulang ke Blang Pidie daerah asalnya.





Alasan isterinya untuk pulang ke Blang Pidie memang tepat, karena menurutnya Abu Ibrahim Woyla tidak lagi peduli kepada keluarga, beliau hanya asyik berzikit sendiri dan pergi kemana beliau suka. akan tetapi, keinginan Ummii Rukian untuk kembali ke Blang Pidie tidak terwujud karena Allah mempersatukan Abu Ibrahim Woyla dan isterinya sampai akhir hayatnya.



Kisah Keajaiban dan Aneh





Bila kita dengar kisah dan cerita tentang Abu Ibrahim Woyla semasa hidupnya tak ubah seperti kita membaca kisah para sufi dan ahli tashawwuf. Banyak sekali tindakan yang dikerjakan Abu Ibrahim Woyla semasa hidupnya yang terkadang tidak dapat diterima secara rasional, karena kejadian yang diperankannya termasuk di luar jangkauan akal pikiran manusia. Untuk mengenal prilaku Abu Ibrahim Woyla haruslah menggunakan pikiran alam lain sehingga menemukan jawaban apa yang dilakukan Abu Ibrahim Woyla itu benar adanya.








Alm. Abu Ibrahim Woyla berkunjung ke sebuah tempat.

Itulah keajaiban-keajaiban yang melekat pada sosok Abu Ibrahim Woyla, yang oleh sebagian ulama di Aceh menilai bahwa Abu Ibrahim Woyla adalah seorang ulama yang sudah mencapai tingkat Waliyullah (Wali Allah). hal itu diakui Teungku Nasruddin, memang banyak sekali laporan masyarakat yang diterima keluarga menceritakan seputar keajaiban kehidupan Abu Ibrahim Woyla.



Hal ini terbukti semasa hidupnya Abu Ibrahim Woyla selalu mendatangi tempat-tempat dimana umat selalu dalam kesusahan, kegelisahan dan musibah beliau selalu ada di tengah-tengah masyarakat itu. Namun orang sulit memahami maksud dan tujuan Abu Ibrahim Woyla untuk apa beliau mendatangi tempat-tempat seperti itu, karena kedatangannya tidak membawa pesan atau amanah apapun bagi masyarakat yang didatanginya. Abu Ibrahim Woyla hanya datang berdoa di tempat-tempat yang ia datangi, tutur Teungku Nasruddin.





Dalam hal ini Ustadz (Teungku disingkat Tgk) Muhammad Kurdi Syam (seorang warga Kayee Unoe, Calang yang sangat mengenal Abu Ibrahim Woyla menceritakan bahwa Abu Ibrahim Woyla kebetulan sedang berjalan kaki, beliau terkadang masuk ke sebuah rumah tertentu milik masyarakat yang dilawatinya, ia mengelilingi rumah tersebut sampai beberapa kali kemudian berhenti pas di halaman rumah itu dan menghadapkan dirinya ke arah rumah tersebut dengan berzikir LA ILAHA ILLALLAH yang tak berhenti keluar dari mulutnya, setelah itu Abu Ibrahim Woyla pergi meninggalkan rumah itu.



Tidak ada yang tahu makna yang terkandung di balik semua itu, apakah agar penghuni rumah itu terhindar dari bahaya yang akan menimpa mereka atau mendoakan penghuni rumah itu agar dirahmati Allah? Wallahu A�lam.





Menurut Tgk Nasruddin , dilihat dari kehidupannya, Abu Ibrahim Woyla sepertinya tidak lagi membutuhkan hal-hal yang bersifat duniawi, ia mencontohkan, kalau misalnya Abu Ibrahim Woyla memiliki uang, uang tersebut bisa habis dalam sekejap mata dibagikan kepada orang yang membutuhkan dan biasanya Abu Ibrahim Woyla membagikan uang itu kepada anak-anak dalam jumlah yang tidak diperhitungkan (sama seperti amalan Rasulullah). Begitulah kehidupan Abu Ibrahim Woyla dalam kehidupan sehari-hari.





Keajaiban lain yang membuat masyarakat tak habis pikir dan bertanya-tanya adalah soal kecepatan beliau melakukan perjalanan kaki yang ternyata lebih cepat dari kendaraan bermesin. Memang kebiasaan Abu Ibrahim Woyla kalau pergi kemana-mana selalu berjalan kaki tanpa menggunakan sendal. Bagi orang yang belum mengenalnya bisa beranggapan bahwa Abu Ibrahim Woyla sosok yang tidak normal. Karena disamping penampilannya yang tidak rapi, mulutnya terus komat kamit mengucapkan zikir sambil berjalan.



Tgk Muhammad Kurdi Syam menceritakan suatu ketika Abu Ibrahim Woyla sedang jalan kaki di Teunom menuju Meulaboh (perjalanan yang memakan waktu 1 sampai 2 jam dengan kendaraan bermotor), yang anehnya Abu Ibrahim Woyla ternyata duluan sampai di Meulaboh, padahal yang punya mobil tadi tahu bahwa tidak ada kendaraan lain yang mendahului mobilnya, kejadian ini bukan sekali dua kali terjadi, malah bagi masyarakat di pantai barat yang sudah mengganggap itulah kelebihan sosok ulama keramat Abu Ibrahim Woyla yang luar biasa tidak sanggup dinalar oleh pikiran orang biasa.





karena tak heran kalau Abu Ibrahim Woyla berada seperti di pasar, misalnya semua pedagang di pasar itu berharap agar Abu Ibrahim Woyla dapat singgah di toko mereka, karena mereka ingin mendapatkan berkah Allah melalui perantaran Abu Ibrahim Woyla. Namun tidak segampang itu karena Abu Ibrahim Woyla punya pilihan sendiri untuk mampir di suatu tempat.



Seperti yang diceritakan Tgk Muhammad Kurdi Syam, suatu waktu Abu Ibrahim Woyla sedang berada di Lamno, Aceh Jaya. lalu bertemu dengan seseorang yang bernama Samsul Bahri yang sedang bekerja di Abah Awe, saat itu kebetulan Abu Ibrahim Woyla membawa dua potong lemang.



Ketika mampir di situ Abu Ibrahim Woyla meminta sedikit air, setelah air itu diberikan Samsul lalu Abu Ibrahim Woyla memberikan dua potong lemang tersebut kepada Samsul tapi Samsul menolaknya karena menurut Samsul bahwa lemang tersebut adalah sedekah orang yang diberikan kepada Abu Ibrahim Woyla. karena tidak mau diterima Samsul, lemang itu dibuang Abu Ibrahim Woyla yang tak jauh dari tempat duduknya, spontan saja Samsul tercengang dengan tindakan Abu yang membuang lemang begitu saja, karena merasa bersalah lalu Samsul ingin mengambil lemang yang sudah dibuang tersebut, namun sayang, ketika mau diambil lemang itu hilang secara tiba-tiba.





Dalam kejadian lain, Tgk Nasruddin menceritakan suatu ketika (sebelum Tgk Nasruddin menjadi menantu Abu Ibrahim Woyla), tiba-tiba shubuh pagi Abu Ibrahim Woyla datang ke almamaternya ke Pesantren Syeikh Mahmud, kaki Abu Ibrahim Woyla kelihatan sedikit pincang sebelah kalau beliau berjalan. Kedatangan Abu Ibrahim Woyla disambut Tgk Nasruddin dan teman-teman sepengajian lainnya.



Lalu Abu meminta sedikit nasi untuk sarapan pagi, �nasinya ada, tapi tidak ada lauk pauk apa-apa Abu� kata Tgk Nasruddin, �Nggak apa-apa, saya makan pakai telur saja, coba lihat dulu di dapur mungkin masih ada satu telur tersisi� jawab Abu Ibrahim Woyla, lalu Tgk Nasruddin menuju ke dapur, ternyata di tempat yang biasa ia simpan telur terdapat satu butir telur, padahal seingatnya tidak ada sisa telur lagi karena sudah habis dimakan.





Lantas sambil menyuguhkan Nasi kepada Abu Ibrahim Woyla, Tgk Nasruddin bertanya, �Kenapa dengan kaki Abu ?� Abu menjawab �saya baru pulang dari bukit Qaf (Mekkah), disana banyak sekali tokonya tapi tidak ada penjualnya. Namun kalau kita ingin membeli sesuatu kita harus membayar di mesin, kalau tidak kita bayar kita akan ditangkap polisi�, Abu meneruskan �setelah saya belanja di toko-toko itu lalu saya naik kereta api dan sangat cepat larinya, karena saya takut duduk dalam kereta api itu , maka saya lompat dan terjatuh hingga membuat kaki saya sedikit terkilir, makanya saya agak pincang, tapi sebentar lagi juga sembuh�.





Kejadian serupa juga dialami oleh keluarga dekat Abu Ibrahim Woyla sendiri, suatu hari Abu mengunjungi salah seorang saudaranya untuk meminta sedikit nasi dengan lauk sambel udang belimbing, lalu tuan rumah itu mengatakan pada isterinya untuk menyiapkan nasi dengan sambel udang belimbing untuk Abu Ibrahim Woyla, tapi isterinya memberi tahu bahwa pohon belimbingnya tidak lagi berbuah, �baru kemarin sore saya lihat pohon belimbingnya lagi tidak ada buahnya� kata sang isteri pada suaminya. Tapi suaminya terus mendesak isterinya �coba kamu lihat dulu, kadang ada barang dua tiga buah sudah cukup untuk makan Abu� katanya.lalu isterinya pergi ke pohon belakang rumah, ternyata belimbing itu memang didapatkan tak lebih dari tiga buah di pohon yang kemarin sore dilihatnya.





Demikian pula ketika hendak melangsungkan pernikahan anak pertama Abu Ibrahim Woyla, yaitu Salmiah, msyarakat di kampung melihat sepertinya Abu Ibrahim Woyla tidak peduli terhadap acara pernikahan anaknya. Padahal acara pernikahan itu akan berlangsung beberapa hari lagi, tapi Abu Ibrahim Woyla tidak menyiapkan apa-apa untuk menghadapi acara pernikahan anaknya itu, bahkan uang pun tidak beliau kasih pada keluarga untuk kebutuhan acara tersebut. Namun ajaibnya pada hari �H� (hari pernikahan berlangsung) ternyata acara pernikahan anaknya berlangsung lebih besar dari pesta-pesta pernikahan orang lain yang jauh-jauh hari telah mempersiapkan segala sesuatunya.




Begitulah sebagian dari perjalanan riwayat hidup seorang ulama dan aulia Abu Ibrahim Woyla yang sulit dicari penggantinya di Aceh sekarang ini. Beliau berpulang ke Rahmatullah pada hari sabtu pukul 16.00 WIB tanggal 18 Juli 2009 di rumah anaknya di Pasi Aceh Kecamatan Woyla Induk, Kabupaten Aceh Barat dalam usia 90 tahun.



Tim Majalah Santri Dayah pernah berziarah ke makan beliau pada pertengahan tahun 2012, melihat makan yang dijaga oleh anak tertuanya, banyak sekali diziarahi oleh masyarakat. Namun pihak keluarga sangat hati-hati dan berpesan pada penziarah agar makan Abu Ibrahim Woyla tidak dijadikan tempat pemujaan (yang membawa kepada syirik).



(Dinukil majalah Santri Dayah | santridayah.com)







Like ? Tweet :










Join ? Follow :












Friends

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. test - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger